Oleh: Iko Safika, Ph.D.
Peningkatan kasus HIV di kalangan Lelaki berhubungan seks dengan Lelaki (LSL) membutuhkan penggunaan beberapa strategi yang tepat sasaran, terlebih dengan fakta bahwa LSL sangat bervariasi dari jenis dan tipenya. Salah satu solusi untuk mengurangi hambatan dalam mengakses jam layanan dan tingginya stigma dan diskriminasi yang dialami di fasilitas kesehatan adalah strategi menjemput bola dengan pelaksanaan Mobile testing. Mobile testing melalui pendekatan tempat atau venue-based testing[1]telah banyak didokumentasikan sebagai strategi yang efektif dalam menjangkau dan meningkatkan cakupan test HIV dikalangan LSL. Sauna dan Panti Pijat yang bertebaran di wilayah Jakarta, merupakan tempat/lokasi yang biasa digunakan LSL untuk nongkrong dan/atau mencari pasangan seksual.
Sejak February 2014, Yayasan Kasih Suwitno (YKS) telah melakukan penjangkauan langsung di dua Sauna dan dua Panti Pijat di Jakarta. Penjangkauan ini bermaksud untuk meningkatkan kesadaran LSL dalam melakukan seks yang aman, test HIV, dan masuk segera dalam pengobatan ARV bagi yang positif. Untuk itu, YKS menyediakan mobile testing dengan tim yang terdiri dari perawat, konselor, analist lab, dan petugas administrasi, yang secara teratur mengunjungi sauna dan panti pijat tersebut. Untuk melakukan mobile testing ini, YKS bekerjasama dengan manager/pemilik sauna dan panti pijat, Yayasan Intermedika (YIM), dan fasilitas kesehatan, baik pemerintah (e.g. Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Setiabudi), maupun swasta (e.g. Rumah Sakit Saint Carolus dan Klinik Angsamerah). Test HIV dilakukan dengan metode rapid testing melalui darah perifer dengan menggunakan finger stick, yang juga telah terbukti secara ilmiah memiliki beberapa keuntungan dibandingkan metode pengambilan darah intra vena dengan menggunakan syringe needle[2], yaitu: lebih cepat hasilnyadan nyaman bagi pasien. Selain itu di Sauna juga dilakukan pemeriksaan syphilis dengan metode TPHA Rapid test dan test ulang dengan menggunakan metode RPR di layanan rujukan.
Untuk mobile testing di sauna, sasarannya adalah klien atau pelanggan yang datang untuk menggunaan fasilitas sauna. Informasi HIV dan AIDS serta test HIV ditawarkan saat mereka membeli karcis masuk. Menurut Fajar Prabowo, program officer, YKS, dari 100 orang yang datang ke sauna, rata-rata 30 orang mau di test HIV dan diberikan informasi. Dari yang setuju di test, terdapat 5 sampai 6 orang yang positif HIV. Bagi yang positif, terkadang mereka tidak langsung mau dirujuk kefasilitas kesehatan. YKS melakukan kontak yang terus menerus. Bagi yang hasilnya negatif akan tetap di tawarkan untuk test lagi setelah masa jendela berakhir. Tim YKS menindak-lanjuti klien yang positif sampai mereka tidak bisa dihubungi dan dikontak lagi (e.g. nomor telephone yang diberikan tidak aktif dan/atau klien pindah alamat). Menunda pengobatan adalah hal yang sering ditemui pada kelompok ini, oleh karena itu pendampingan intensif terus dilakukan.
Untuk mobile testing di panti pijat, strategi yang digunakan sama dengan yang di sauna. Yang berbeda adalah sasarannya. Sasaran panti pijat adalah staf yang menyediakan jasa pijat pada pelanggan yang notabene adalah LSL. Untuk panti pijat, selain test HIV dilakukan juga pengambilan darah untuk pemeriksaan syphilis, anal swab dan uretha. Pemeriksaan ini dilakukan setiap 3 bulan sekali.
Sampai September 2014, sudah ada 440 test HIV yang di lakukan di di kedua jenis lokasi LSL tersebut. Jumlah HIV positif adalah 66. Dari 66, 39 orang sudah masuk dalam pengobatan ARV di ketiga fasilitas kesehatan yang telah disebutkan sebelumnya. Bagi yang di luar kota, kadang mereka juga melakukan pengobatan di daerahnya masing-masing. Sedangkan sisanya, yaitu 3 orang hilang kontak; 4 orang menolak di obati; dan 20 orang masih menunda pengobatan.
Salah satu fasilitas kesehatan yang menjadi tempat rujukan juga mengkonfirmasi bahwa dengan adanya strategi jemput bola yang dilakukan oleh YKS, terjadi peningkatan pasien dari kalangan LSL. Saat ini 50% dari pasien yang datang ke fasilitas layanan tersebut merupakan LSL, walaupun mereka tidak hanya melayani pasien LSL tapi semua pasien dari berbagai kalangan yang membutuhkan layanan HIV dan AIDS. Lebih lanjut dikatakan, terjadi peningkatan kesadaran untuk memulai pengobatan ARV. Dulunya pasien yang HIV positif datang ke fasilitas kesehatan tersebut setelah keadaan disertai infeksi oportunistik dengan CD4 rata-rata satu digit. Sekarang, rata-rata klien yang memulai dan tetap dalam pengobatan, CD4nya diatas 300 sehingga untuk jangka panjang dapat mengurangi beban biaya dan dari segi pencegahan lebih tepat sasaran. Kerahasiaan dan kenyamanan pasien sangat penting dalam mengurangi hambatan mengakses layanan. Tempat yang dibuat nyaman dan terpisah dari kesibukan memberikan nilai tersendiri dalam mengurangi stigma dan diskriminasi yang dialami oleh LSL.
[1]Binson D & WoodWJ. (2003). A theoretical approach tobathhouse environments. Journal of Homosexuality, 44,23-31.
[2]Jaspard, M., Le Moal, G., Saberan, Roncata.,Plainchamp, D., et al. 2014. Finger-stick whole blood HIV-1/2. Home-use tests are more sensitive than oral fluid-based in-home HIV tests. Plos One, 9(6):e101148
