Ilustrasi -- MI/Marcelinus KelenCornelius Eko Susanto - 29 Januari 2015

Metrotvnews.com, Nabire: Kasus penularan penyakit HIV/AIDS di Papua semakin mengkhawatirkan. Laju penularan HIV semakin tidak terkendali. Kondisi ini mulai mengancam keberlangsungan hidup suku asli di Papua.

“Saya datang ke Kabupaten Paniai, di sana dilaporkan sudah empat marga penduduk asli punah gara-gara HIV,” ujar Pangdam XVII Cendrawasih, Mayjen TNI Fransen G Siahaan, pada acara tatap muka dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, di Nabire, Papua, Rabu (28/1/2015) malam.

HIV&AIDS | ReutersFauci AS. JAMA. 2015;313:357-358. | January 28, 2015

In a commentary published in JAMA, leaders of the global AIDS community called for increased efforts to contain the disease by 2020.

“Today, an estimated 13.6 million people worldwide are receiving ART, 700,000 having initiated therapy over the past year alone — remarkable progress by any measure,” wrote Anthony S. Fauci, MD, director of the National Institute of Allergy and Infectious Diseases, and Hilary D. Marston, MD, MPH, also of NIAID. “Although much remains to be done to achieve universal global access to ART for all people with HIV, the global AIDS community has set its sights on new, even more ambitious goals.”

Pelajar Korea Selatan membentuk pita peduli AIDS di Cheonggyecheon pada 2013. Foto: IbitimesBy Fitri Syarifah | on Jan 28, 2015

Liputan6.com, Jakarta Kasus HIV/AIDS di Papua memang masih tinggi dan memprihatinkan. Selain edukasi yang lemah, ternyata ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi tingginya angka penderita HIV/AIDS seperti banyaknya Pekerja Seks Komersial (PSK) asal daerah lain yang berdomisili di Papua.

Begitu disampaikan Executive Director Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA) Ramdani Sirait saat diwawancarai Liputan6.com di bilangan Kuningan, Jakarta, Rabu (28/1/2015).

Marsha Timothy | Koran SindoThomasmanggalla | Rabu,  28 Januari 2015

Koran SINDO - Marsha Timothy kembali aktif di dunia seni peran. Kali ini dia tampil di film Nada untuk Asa. Dia berperan sebagai Nada, seorang ibu yang terjangkit virus HIV. Penampilannya memang berbeda.

Dia berharap film drama ini memberi inspirasi kepada penonton. “Nada dalam film ini digambarkan sebagai perempuan sangat kuat dan mampu mengatasi masalah hidup. Saya harap film ini bisa menginspirasi banyak orang mengenai perjuangan seorang ibu,” kata Marsha pada gala premier film Nada untuk Asa di XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta, Senin (26/1). 

Supported by

AusAID