Oleh Lita S. Andayani
Diskusi paralel kali ini mengambil tema Faktor endukung dan Penghambat dalam Penyediaan LAyanan HIV dan AIDS. Terdapat 6 pembicara pada sesi ini dengan dimoderatori oleh Ita Perwira dari PKMK FK UGM. Diskusi dibagi menjadi dua sub sesi. Sesi pertama disampaikan paparan oleh 3 orang pembicara. Sementara pada sub sesi kedua paparan disampaikan oleh 2 orang pembicara. Diskusi dilakukan setelah semua pembicara menyampaikan materinya.
Pembicara pertama adalah Irma Prasetyowati yang menyampaikan materinya dengan judul “Kendala SUFA (Strategic Use of ARV) Berdasarkan Pendekatan Sistem di Kabupaten Jember Tahun 2014”. Dalam paparannya disampaikan bahwa program SUFA mampu meningkatkan cakuan, namun terkendala dalam hal proses dan outputnya. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Kedepannya perlu dipikirkan keberlanjutan dari program ini, dengan berbagai strategi yang ditawarkan yaitu kerja sama antara KPA, LSM dan dinas kesehatan untuk melakukan proses pendampingan. Perlunya kerjasama dengan perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuan kapasitas petugas layanan terutama di puskesmas. Strategi berikunya adalah adokasi kepada stakeholder melalui penulisan policy brief hasil riset.
Pembicara kedua Bony Whiem Lestari dengan judul “Persepsi Tenaga Kesehatan terhadap Strategi HIV Test & Treat pada Pengguna Narkoba Suntik di Jawa Barat”. Terdapat kesenjangan antara pelayanan dengan pelatihan yang didapatkan oleh tenaga kesehatan, sehingga perlu adanya petunjuk pelaksanaan dan petunjuk tehnis dalam strategi HIV Test and Treat khususnya pada pengguna narkoba suntik. Tujuan penelitian ini untuk mengukur persepsi tenaga kesehatan terhadap strategi TnT pada penasun di Jawa Barat.
“Analisis SWOT pada peran Bidan di dalam Mengendalikan HIV / AIDS di Denpasar: Pengkajian Hambatan dan Pencapaiannya” merupakan judul materi yang disampaikan oleh dr. Ni Komang Yuni Rahyani.,S.SI.T.,M.Kes. Dalam paparannya dijelaskan bahwa bidan adalah tenaga kesehatan yang multi fungsi dalam layanan PPIA. Namun sayangnya dalam menjalankan pelayanannya terbatas pada sarana dan prasaran yangtidak mendukung, seperti tidak tersedianya ruangan khusus konseling yang memberikan ruang privat antara konselor dengan klien.
Pada sub sesi kedua, terdapat dua orang pembicara yaitu Shanti Riskiyani, SKM, M.Kes dan Lusiana El Sinta Bustami. Materi yang disampaikan oleh pembicara pertama berjudul “Layanan Psikososial bagi Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) di Kota Makassar”. Disampaikan bahwa tujuan dari penelitian aalah mengeksplorasi peranan sistim informasi dalam mendukung layanan psikososial bagi ODHA di Kota Makassar. Penyelenggaraan sistim informasi menghasilkan beberapa dampak positif dalam mendukung layanan sosial bagi ODHA. Dengan demikian mampu meningkatkan kualitas program HIV di kota Makassar.
Pembicara terakhir adalah Lusiana El Sinta Bustami, yang menyampaikan materinya berjudul “Perbedaan Metode KIE-ABAT dan Metode Peer Education terhadap Pengetahuan dan Persepsi Remaja Mengenai HIV-AIDS di Kota Bukit Tinggi”