0
0
0
s2smodern
Oleh: Ita Perwira

Fast track unaidsMasih dalam bulan Desember dimana pada awal bulan kemarin kita memperingati hari AIDS sedunia dan gerakan global dicanangkan untuk fast track AIDS response. Untuk mencapai target 90-90-90 pada tahun 2020 dibutuhkan komitmen semua pihak untuk mengakhiri epidemi AIDS yang juga menjadi bagian Sustainable Development Goals. Untuk membantu masing-masing negara mencapai target ini, WHO telah mengembangkan panduan konsolidasi informasi strategis untuk HIV dalam sektor kesehatan yang telah di rilis pertengahan tahun kemarin (bulan Mei 2015).

Panduan yang disusun oleh WHO bertujuan untuk membantu negara-negara dalam melakukan konsolidasi dan memastikan bahwa semua indikator global yang menjadi target menjadi prioritas dan mencapai hasil yang maksimal. Panduan ini juga diharapkan dapat membantu staf sektor kesehatan nasional dalam memilih mengumpulkan dan menganalisa secara sistematik informasi strategis untuk membantu sektor kesehatan dalam melaksanakan penanggulangan HIV dan AIDS.

Informasi strategis adalah data atau informasi yang telah diolah atau diproses dan diinterpretasikan menjadi bentuk yang mengandung nilai dan makna yang berguna untuk proses perencanaan dan pengambilan keputusan dalam mendukung pembangunan kesehatan[1]. Pemanfaatan informasi strategis ini menjadi sangat penting dimana aksiom “know your epidemic, know your response” menunjukkan bahwa setiap daerah berbeda permasalahannya sehingga sangat penting untuk memahami permasalahan masing-masing dan mengembangkan respon yang sesuai dengan kebutuhan.

Lalu berdasarkan hal ini, apa selanjutnya yang perlu dilakukan oleh masing-masing negara termasuk Indonesia? Panduan ini dapat digunakan secara nasional untuk mengembangkan pelaksanaan pelaporan M&E, menghubungkan indikator yang sudah ada selama ini dengan hasil (result chain mulai dari input sampai dampak) serta mengidentifikasi kesenjangan yang ada pada laporan nasional dan menyusun strategi untuk mengatasi kesenjangan tersebut. Bersamaan dengan hal ini, program nasional juga harus melakukan assesmen sumber data untuk menilai indikator yang ada dan menghubungkannya dengan cascade sektor kesehatan yang konsepnya memprioritaskan pengembangan layanan (cascade of services) yang meliputi casecade pencegahan, perawatan dan pengobatan HIV dengan meningkatkan jaringan (linkage) dan kualitas[2].

Kerangka respon penanggulangan HIV nasional saat ini yang ada dalam SRAN (2015-2019)[3]sudah sesuai dengan kerangka yang disarankan oleh WHO dalam panduan ini. Yang menjadi masalah saat ini adalah implementasi dalam menginterpretasikan kerangka tersebut mulai dari pengumpulan data sampai dengan proses analisa dan interpretasi data hingga menjadi informasi strategis yang dimanfaatkan untuk pengembangan dan perbaikan program. Karena kompleksnya program penanggulangan HIV dan AIDS ini, banyak sektor yang terlibat dalam pelaksanaannya dan hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan koordinasi karena masing-masing sektor juga memiliki kepentingannya sendiri.

Gambar kerangka strategi penanggulangan HIV mulai dari input sampai dengan dampak

Sumber: WHO, 2015

Tanpa adanya komitmen untuk melakukan koordinasi lintas sektor kerangka strategi ini akan sulit dilaksanakan, seperti hasil temuan dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh tim PKMK UGM yang menunjukkan bahwa saat ini yang terjadi adalah proses monitoring dan evaluasi program masih berjalan paralel baik antara sektor kesehatan, KPA maupun sektor komunitas. Struktur pelaporan yang terjadi lebih banyak satu arah saja yaitu dari bawah keatas tanpa diikuti proses feedback terutama di masing-masing tingkat (kota/kabupaten, provinsi hingga nasional). Mitra pembangunan internasional yang seharusnya memberikan dukungan dalam respon penanggulangan HIV dan AIDS juga seringkali berjalan paralel dan belum terintegrasi dengan sistem kesehatan yang ada.

Untuk mencapai target 90-90-90 pada tahun 2020, Indonesia memiliki gap yang masih cukup besar, dan untuk mengejar ini perlu adanya komitmen dari semua pihak dan perlu dikaji kembali pelaksanaan program penanggulangan HIV dan AIDS melalui monev dan pemanfaatan informasi strategis untuk meningkatkan kinerja dengaun menggunakan panduan dari WHO ini dan disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. (IP)

Sumber:

  1. WHO, 2015, Consolidated Strategic Information Guidelines for HIV in the Health Sector.
  2. Kemenkes RI. 2014. Permenkes RI No. 92 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Komunikasi Data dalam Sistem Informasi Kesehatan Terintegrasi
  3. KPA. 2015. SRAN 2015-2019 Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia

[1] Kemenkes RI. 2014. Permenkes RI No. 92 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Komunikasi Data dalam Sistem Informasi Kesehatan Terintegrasi
[2] WHO, 2015, Consolidated Strategic Information Guidelines for HIV in the Health Sector
[3] KPA. 2015. SRAN 2015-2019 Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia
0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID