Oleh: Yuli Rahma
Sejak ARV ditemukan sampai dengan saat ini, ARV memang memberikan dampak yang sangat signifikan dalam pencegahan dan pengobatan HIV-AIDS walaupun belum bisa menyembuhkan secara total namun mampu untuk mencegah penularan HIV dari orang yang sudah terinfeksi ke orang yang belum terinfeksi. Berangkat dari temuan tersebut, pada tahun 2013, WHO mengeluarkan "Consolidated Guidelines on ARV for Treatment and Prevention of HIV" yang lebih dikenal dengan sebutan SUFA. SUFA memiliki dua pendekatan yaitu Treatment as Prevention (TASP) yang asusmsinya adahal bahwa ODHA yang mendapat ART akan sangat kecil kemungkinannya untuk menularkan jika viral load bisa ditekan dan tidak mempunyai IMS, sehingga ODHA yang mendapatkan ART hampir tidak bisa menularkan HIV. Pendekatan yang kedua adalah Test and Treat yaitu pemakaian ARV secara langsung begitu diketahui HIV (+), tanpa melihat angka CD4.
Melihat dua asusmsi pendekatan SUFA yang tersebut di atas, idealnya ART bisa menguntungkan seseorang dalam pengobatan dan juga menurunkan epidemi HIV di tengah masyarakat. Sampai saat ini upaya pengobatan HIV terus diperluas, namun kesenjangan cakupan masih besar. Alur perawatan masih perlu diperkuat. Kerjasama yang erat dengan komunitas perlu ditingkatkan. Pengobatan dini tanpa melihat CD4 pada WPS, penasun, LSL, pasangan orang dengan HIV, pasien IMS, wanita hamil, ko-infeksi TB-HIV, penderita Heb-C, dan WBP menjadi sebagian sasaran dalam pendekatan SUFA. Peran Populasi kunci menjadi sangat strategis dalam mendorong tes HIV, untuk segera memulai pengobatan ART.
Dari sisi yang lain, SUFA mengundang kontroversi. Menurut opini kritis dari salah seorang pemerhati HIV dan AIDS, sudah waktunya kita berhenti berpikir bahwa edukasi dan penjangkauan hanya perlu bagi kalangan yang berisiko (atas dasar pemikiran bahwa epidemi HIV di Indonesia belum mencapai tahap generalized). Rasanya kurang masuk akal jika harapan kita tertumpu pada sukses program SUFA sehingga kita tidak memikirkan lagi, misalnya, bagaimana caranya agar pendidikan seks dan kesehatan reproduksi yang komprehensif dapat diajarkan di sekolah. Banyak kasus kaitan dengan ini terletak ada pada guru yang tidak nyaman mengajarkan pendidikan seks yang komprehensif, sedangkankan pelajaran dengan topik tersebut sebenarnya sudah masuk ke dalam kurikulum. Sehingga yang harus diupayakan adalah training untuk para guru agar mereka mampu mengajarkan pendidikan seks di sekolah secara proporsional. Kendala memang ada namun kita sudah keburu pesimis dan yakin bahwa upaya tersebut akan gagal. Padahal apa salahnya? Bukankah biaya training untuk para guru tidak seberapa jika dibandingkam dengan biaya ARV yang semakin membengkak, seiring dengan berjalannya program SUFA dan PITC di kalangan ibu hamil?
Catatan lain yang juga perlu diperhatikan mengenai SUFA juga adalah masalah adherence dari pelaku ART. Dalam banyak kasus, tidak sedikit ODHA yang mengalami masalah dengan adherence pada saat menjalankan ART baik di daerah yang sudah well education tentang HIV-AIDS maupun daerah yang belum teredukasi dengan baik . Seperti kita ketahui bersama bahwa untuk memulai terapi ARV banyak faktor pertimbangan yang perlu diperhatikan secara fisik maupun psikis, salah satunya komitmen dan konsistensi minum ARV, kendala pada saat ART yaitu menemui titik jenuh minum obat sehingga muncul perilaku tidak peduli dengan ARV, manajemen diri yang buruk, relapse bagi kalangan drugs user sehingga pola hidup tidak teratur dalam ketepatan mengkonsumsi ARV, minimnya pengetahuan ttg HIV-AIDS dan ARV, dan sebagainya sehingga berujung pada resistensi.
Terlepas dari itu semua, SUFA merupakan salah satu komponen program yang sejalan dengan normalisasi HIV dalam rangka mengantisipasi era pasca MDGs. Hanya saja, kita harus melihat realita bahwa program SUFA belum mampu berdiri sendiri. Jika peran serta LSM tidak lagi bisa diharapkan, terutama di era pasca MDGs nanti, dan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi yang komprehensif di sekolah "tetap tidak dilakukan", maka program SUFA tidak akan mampu mewujudkan "deteksi dini" pada orang banyak, karena masyarakat luas tidak akan termotivasi untuk tes HIV. Sebagai contoh, ODHA yang belum lama terinfeksi tidak mengalami gejala serius, sehingga kemungkinan besar tidak pergi ke dokter atau, kalaupun ke dokter, tidak dicurigai terinfeksi HIV. Maka orang-orang tersebut akan luput dari deteksi dini. Sementara itu, stigma akan tetap kental, sehingga orang semakin enggan untuk tes HIV.







