Oleh Yuli Rahmawati
Editor: Eviana Hapsari Dewi
Kabar santer yang sering terdengar beberapa bulan terakhir ini adalah bahwa sebagian donor yang concern pada isu penanggulangan HIV dan AIDS sudah mulai mengurangi dan bahkan akan menghentikan pendanaannya. Global Fund yang menjadi salah satu donor terbesar , tahun depan juga akan usai. Situasi ini, memunculkan pertanyaan mendasar, sudah siapkah kita dengan instrumen pembiayaan guna mendukung kerja-kerja penanggulangan HIV-AIDS di masa mendatang? Apakah pendanaan yang selama ini berasal dari donor bisa ditanggung oleh pemerintah pusat ataupun daerah?
Belum lagi ada jawaban yang pasti atas pertanyaan tersebut di atas, terjadi polemik tersendiri bagi para pelaku dan pegiat HIV dan AIDS. Tidak bisa dipungkiri bahwa selama dua dekade terakhir, hampir sebagian besar pembiayaan program penanggulangan HIV dan AIDS bertumpu pada dukungan donor asing. Sudahkah kita mempunyai exit strategy atas situasi tersebut? Di manakah posisi pemerintah dalam mengambil alih tanggung jawab ini? Sejauh mana kepedulian pemerintah atas kondisi tersebut?
Upaya akselerasi pendanaan lokal untuk memutus ketergantungan, konon bisa menjadi salah satu upaya exit strategy. Namun jika menilik data NASA terakhir, masih terlihat gap yang sangat signifikan antara pendanaan daerah dengan bantuan luar negeri. Meskipun akan ada pendanaan tambahan dari dana bansos, apakah upaya akselerasi pendanaan lokal saat ini memang benar-benar sudah dipersiapkan dan masuk akal untuk bisa menjadi sebuah exit strategy? Terlebih lagi, melihat realitas bahwa tidak semua daerah menempatkan isu penanggulangan HIV dan AIDS menjadi salah satu prioritas. Dengan demikian belum semua propinsi mengalokasikan dana bagi upaya penanggulangan HIV dan AIDS.
Adanya program Layanan Komprehensif dan Berkelanjutan (LKB) dan Strategic Use of ARV (SUFA) yang mulai dijalankan saat ini oleh pemerintah Indonesia juga merupakan salah satu exit strategy. Namun belum ada penelaahan yang mendalam bahwa pendekatan LKB dan SUFA apakah akan mampu menjadi jalan keluar pasca MDGs nanti?
Peran LSM yang peduli pada isu HIV-AIDS di masa mendatang akan mengalami penurunan seiring dengan berkurangnya bantuan donor, terutama pasca MDGs nantinya. Jika tidak ada upaya selain program LKB dan SUFA, di mana kedua program tersebut tidak mampu melakukan deteksi dini pada banyak orang dan kedua pendekatan ini akan menggunakan sebagian besar anggaran pemerintah untuk pembelian ARV, maka atas dasar apa kita berharap bisa segera mencapai fase deselerasi? (-)







