PontianakPost, 21 April 2014

 Ket Photo: Gambar dari InternetSAMBAS – Secara kumulatif dari tahun 2000 hingga Oktober 2013, terdata 235 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sambas. Penularan penyakit ini didominasi kontak heterekseksual. Dari segmen pekerjaan, kategori wiraswasta terdata hingga 140 kasus, ibu rumah tangga (57 kasus), karyawan (13 kasus), dan penjaja seks, 25 kasus.

"Di mana cara penularannya diakibatkan paparan suami yang sebelumnya sudah terjangkit HIV/AIDS.," ungkap Eka, pengelola Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sambas kepada koran ini.Diakuinya, untuk segmen pekerja ini, para wiraswatalah yang membawa penyakit ini ke lingkup rumah tangga. "Ada suami-suami mereka si pembawa virus, sementara istri selaku rumah tangga tak tahu menahu. Dan terjangkitinya ibu rumah tangga melalui hubungan seksual," jelasnya.

Untuk wilayah Sambas, dipaparkan dia, tumbuh sumburnya industri perkebunan di Kabupaten Sambas cukup menyumbang penyebaran HIV/AIDS. "Nah, bukan masalah perkebunannya, perilaku pekerja di perkebunan itu. Bisa saja mereka mengundang penjaja seks atau keluar dari wilayah kerja untuk mencari penjaja seks," katanya.

Perbuatan tersebut, diungkapkan dia, tak disadari merupakan perilaku berisiko. Sayangnya, digambarkan dia, usai mencari penjaja seks, mereka pulang ke rumah dan berhubungan badan dengan istri, sehingga terjadilah penyebaran virus mematikan tersebut terhadap istri mereka.

Terkait soal pertambangan, menurut dia, tidak begitu signifikan. Pasalnya, diungkapkan dia, di Kabupaten Sambas begitu banyak lokasi perkebunan, sementara tambang begitu minim.

Sampai Oktober 2013, dipaparkan dia, untuk AIDS ditemukan sebanyak 83 kasus dan HIV (152 kasus), di mana 75 orang telah meninggal dan 160 orang masih hidup, di mana dari 235 kasus terdiri laki-laki sebanyak 140 orang dan perempuan, 95 orang.Dari 19 kecamatan yang ada di kabupaten ini, menurutnya, empat kecamatan belum ditemukan penyebaran jenis penyakit ini, seperti di Sajad, Tekarang, Tangaran, hingga Galing. Sementara kecamatan lainya seperti Pemangkat, menurutnya ditemukan 105 kasus, Jawai (31 kasus), Tebas (23 kasus), Teluk Keramat (19 kasus), Sambas (12 kasus), Semparuk (9 kasus), Salatiga dan selakau masing-masing 8 kasus, Sebawi (4 kasus), Jawai Selatan (4 kasus), Paloh (3 kasus), Subah (3 kasus), Sejangkung (2 kasus), dan Sajingan (1kasus).

Dari sisi cara penularan hubungan seks sejenis atau homo, dipaparkan dia, ditemukan 26 kasus, kemudian antar lawan jenis atau hetero (141 kasus), dan IDU atau suntikan (lima kasus), paparan suami (50 kasus), tranfusi darah nihil, dan PMTCT penularan dari ibu ke anak, 14 kasusDari faktor usia, menurutnya berkisar 25 – 34 tahun terbanyak terkena kasus HIV/AIDS, yakni sebanyak 111 kasus, kemudian di bawah 15 tahun sebanyak 14 kasus, usia 15 – 24 tahun (28 kasus), 35 – 44 tahun (58 kasus), di atas 44 tahun, 24 kasus.Kondisi ini, menurut dia, justru menjadi tantangan, agar senantiasa berusaha menekan angka HIV/AIDS. Oleh sebab itu, dia mengajak agar seluruh lapisan masyarakat serta stakeholder dapat bekerjasama mencegah penularan penyakit ini. Meski, kata dia, KPA terus menekan penyebaran HIV/AIDS hingga zero growth, namun pengindap penyakit ini ternyata cenderung meningkat. (Har)

By Asep Haryono

Sumber: PontianakPost

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID