Laporan Eko Priyono,Surabaya
Tidak banyak kaum muda Surabaya seperti lima sekawan ini. Tanpa banyak umbar omongan, malam-malam mereka mencari pekerja seks komersial (PSK). Dijadikan teman, lalu diajak hidup yang lebih sehat dan lebih baik.
PAGI masih sangat buta. Jarum jam menunjukkan pukul 00.20 Rabu (14/1) ketika lima orang keluar dari rumah di sebuah gang buntu kawasan Asemrowo. Dengan berboncengan sepeda motor, mereka beranjak dengan kecepatan rendah tanpa mantel meski hujan turun rintik-rintik.
Di tengah jalan, kelimanya berpencar. Ada yang ke selatan, timur, ada juga yang ke utara. Mereka merambah sisi gelap Surabaya saat sebagian besar penduduk kota sedang terlelap tidur. Tujuannya satu. Berbincang dengan PSK yang sedang menanti tamu datang.
JIBI/SOLOPOS/Antara | Rabu, 14 Januari 2015
Kanalsemarang.com, SEMARANG- Kota Semarang kini memiliki rumah singgah bagi ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang dibangun di kawasan Semarang Utara untuk membantu memotong mata rantai penyebaran penyakit itu.
“Inisiatif mendirikan rumah singgah ini muncul ketika kami mengadakan kunjungan ke rumah singgah di Surakarta,” kata Anita Toresi, pendamping dan konselor rumah singgah tersebut seperti dikutip Antara, Selasa (13/1/2015).
14 Januari 2015
BANDAR – Pemahaman tentang penyebaran dan virus HIV/AIDS dikalangan masyarakat, baiak kalangan orang tua maupun anak muda dirasa masih sangat kurang. Kondisi tersebut menjadi penyebab dari penyebaran virus mematikan tersebut yang setiap bulanya selalu mengalami peningkatan.
“Pemahaman masyarakat tentang HIV/AIDS masih kurang, sehingga perlu adanya penyuluhan lebih luas lagi. Hal itu diperlukan agar penyebaran virus mematikan bisa diminimalisir,” ujar Konselor klinik VCT UPTD Puskesmas Bandar, Nurman Sair Amd Kep.
Oleh : Irfan Laskito, Daru Waskita (Yogyakarta) | Rabu, 14 Januari 2015
Inilah penelitiannya Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
VIVAnews - HIV/AIDS hingga saat ini masih menjadi salah satu penyakit yang mematikan. Obat penawar untuk menyembuhkan penderitanya pun masih belum ditemukan. Untuk itu dibutuhkan suatu penemuan baru yang bisa bermanfaat bagi penderita HIV/AIDS, agar mereka bisa sembuh.
Kondisi itu mendorong Annisa Fitriani, Yunita Dwi Setyawati, dan Intan Hanifah M untuk melakukan penelitian terkait dengan HIV Aids. Penelitian yang dilakukan oleh ketiga Mahasiswa Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini adalah dengan mengumpulkan dan mengkaji jurnal-jurnal yang terkait dengan HIV AIDS.
Fitri Rachmawati | Rabu, 14/01/2015
Bisnis.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan menyatakan sebagian besar orang yang baru terinfeksi HIV tidak merasakan gejala yang jelas. Gejala awal yang muncul bisa berupa flu ringan, sakit kepala, demam, lelah ataupun tidak ada gejala sama sekali.
Subdit AIDS Kementerian Kesehatan Siti Nadia menjelaskan penderita HIV tidak bisa di bedakan dengan orang normal biasa. Dengan demikian, secara fisik belum menunjukan gejala apapun dan tidak berbeda dengan orang normal lainnya.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia