Rini Sasanti Handayani[1], Yuyun Yuniar1, dan Ully Adhie Mulyani[2]
Antiretroviral (ARV) adalah obat HIV–AIDS yang berfungsi mengurangi varemia dan meningkatkan jumlah sel-sel CD4+. Meskipun tidak untuk menyembuhkan, ARV meningkatkan harapan hidup ODHA (orang dengan HIV–AIDS). Tingkat kepatuhan sangat memengaruhi keberhasilan terapi ARV, padahal ARV harus digunakan seumur hidup. Akibatnya sering menyebabkan kebosanan/kejenuhan, dan pada akhirnya menjadi drop out. Pemaknaan ARV oleh ODHA merupakan salah satu faktor yang menentukan kepatuhan ODHA menggunakan ARV.
Penelitian dilakukan di Kota Bandung, Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat dan Kota Denpasar, Kabupaten Badung Provinsi Bali pada bulan Maret sampai dengan November 2011. Sampel 17 penderita HIV–AIDS, 9 wanita dan 8 pria. Usia 20 sampai dengan 42 tahun. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam. Hasil wawancara dianalisis dengan metode content analysis.
Makna ARV bagi ODHA yang berdampak positif tidak hanya berfungsi secara medis sebagai obat umumnya, tetapi memiliki makna terkait fungsi spritual/psikologis (mukjizat, andalan, sebagai pemberi kekuatan), perubahan pola hidup (dinikmati/dibawa enjoy, kebiasaan, pasrah dijalani, seperti air mengalir), harapan hidup (memperpanjang umur, penolong untuk bertahan hidup, vitamin penyambung hidup, kesempatan hidup kedua). Makna ARV bagi ODHA yang berdampak negatif terhadap kepatuhan terkait dengan stigma/diskriminasi (malu minum obat, takut diketahui status HIV sehingga minum obat harus sembunyi-sembunyi), perubahan pola hidup (beban karena harus minum obat selama hidup).
Agar memasukkan unsur pemaknaan terkait fungsi spiritual/psikologis, perubahan pola hidup dan harapan hidup dalam konseling terhadap ODHA pengguna ARV, selain pengertian yang berhubungan dengan fungsi medis dan penanggulangan efek samping.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia