0
0
0
s2smodern
Oleh: Hersumpana, Ig.

Prof. Wiku dalam Acara Workshop Kebijakan AIDS IndonesiaSebuah refleksi pengalaman penelitian Integrasi AIDS kedalam Sistem Kesehatan dari para peneliti AIDS yang dikelola oleh PKMK FK UGM memberikan pembelajaran menarik secara metodologis maupun tujuan dari penelitian itu sendiri. Banyak tantangan dan hambatan dalam menggali data dan informasi yang Kerja yang dihadapi peneliti. Kerja penelitian mensyaratkan sebuah upaya sistematis dan terukur secara metodologis untuk mendapatkan data-data dan informasi yang cukup  untuk dapat menjawab permasalahan penelitian yang dikaji. Keberhasilan atau kegagalan dalam penelitian sebagaimana yang direfleksikan oleh pengalaman peneliti senior dari Universitas Indonesia, Prof.Drh. Wiku Adisasmito, PhD,  dalam Workshop Metodologi Penelitian yang diselenggarakan PKMK FK UGM, 23-25 April 2015 di Yogyakarta, peneliti dituntut dapat mengatasi hambatan (barriers) dalam proses pengumpulan data.

Pengertian barriers  berbasis tulisan Shorter Chuck dilihat dari  aspek pengertian hambatan (perceived barriers) meliputi; ketakutan akan salah menafsirkan atau menggunakan (29%), persoalan konfidensialitas (34 %), Proses perijinan yang terlalu lama (33%),  kebijakan yang membatasi akses data (31%), ketidaktahuan dimana data diberada (28%). Sekaligus, hambatan yang  ditemukan di lapangan (encountered barriers) meliputi; tidak tersedianya data dalam format elektronik (54%), keterbatasan Sumber daya (42%), ketidaktahuan keberadaan data (40%), masalah konfidensialitas (37%) dan ketidaktahuan mengakses data (28%)[1]. Data ini menarik dan kontektual dengan pengalaman para peneliti Integrasi AIDS ke dalam Kesehatan, yang menghadapi permasalahan serupa dalam penggalian data. Beberapa faktor yang paling menonjol seperti ketidaktersediaan data seperti yang diharapkan,  ketidaktahuan bagaimana mengakses data, berakibat pada lemahnya kecukupan data yang diperoleh.  Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut, dibutuhkan kualitas peneliti yang memiliki militansi dan komitmen dalam kerja penelitian yang disepakati bersama.

Pertama, militansi peneliti menjadi faktor penting untuk mendapatkan data dari informan khususnya ketika dihadapkan pada kesulitan ketidaktersediaan data, dan prosedur penelitian yang lama.  Peneliti tidak bisa berhenti ketika menghadapi tantangan itu, tetapi terus menggali alternatif  untuk  mendapatkan data-data tersebut jika menghadapi ketidaktersediaan data bahkan penolakan untuk memberikan data dan informasi karena soal trust atau pun konfidensialitas. Selain, kemampuan metodolgis, militansi peneliti akan mempengaruhi strategi penggalian data untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan.  Kemampuan membangun komunikasi, lobi, dan berbagai pendekatan alternatif lainnya menjadi vital untuk strategi penggalian data. Di Indonesia, peneliti dihadapkan dengan kenyataan pada lemahnya manajemen pengetahuan dari lembaga-lembaga yang semestinya mengelola dan menyediakan data dan informasi. Data dan informasi tersebar dimana-mana, oleh karenanya  untuk mendapatkan data yang relevan membutuhkan strategi dan ketrampilan tersendiri. Semangat pantang menyerah sampai mendapatkan data-data yang dibutuhkan menjadi bagian prasyarat untuk mencapai ketuntasan.

Kedua, disamping permasalahan eksternal, peneliti juga dihadapkan dengan masalah internal, yakni komitmen dari peneliti sendiri terhadap kerja penelitian menentukan keberhasilan. Komitmen untuk memenuhi tanggungjawab profesional dengan menekankan pada akuntabilitas dan kualitas hasil penelitian yang berguna membangun kualitas dan identitas peneliti, lebih daripada kebutuhan praktis.  Pengalaman menunjukkan bahwa jika peneliti dapat menunjukkan hasil penelitian yang berkualitas, maka kualitas itu akan melekat pada peneliti. Peneliti yang berkualitas akan memberikan jaminan hasil penelitian yang dapat berkontribusi menjawab persoalan penelitian. Jika peneliti hanya mengejar alasan pragmatis dan tidak memberikan komitmen yang jelas terhadap kerja penelitian, hasil penelitian bisa jadi akan lebih menghiasi kepustakaan, tetapi tidak bisa digunakan sebagai alternatif solusi yang berbasis bukti untuk pengembangan kebijakan lebih lanjut.

Kedua hal, komitmen dan militansi, menjadi faktor yang perlu dikembangkan oleh para peneliti Integrasi HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan. Komitmen dan kualitas akan mendorong peneliti mengembangkan pemikiran dan kreasi ketika menghadapi hambatan baik secara eksternal maupun internal dalam proses penggalian data primer dan sekunder. Refleksi yang dapat ditarik dari pengalaman  penelitian ini adalah bagaimana peneliti dapat memotivasi diri untuk bergerak “melintasi, beyond” alasan pragmatis, dan membangun untuk mengembangkan penelitian yang berkualitas sehingga dapat menyumbangkan pengetahuan baru, dan sekaligus alternatif solusi yang dapat diterapkan bagi pengambil kebijakan pada tataran praktek.


[1] Shorter Chuck, Barriers to Accessing/Sharing Data. Tulane University COE,  http: //www.cdc.gov 
0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID