0
0
0
s2smodern
Selasa, 28 Januari 2014 Oleh: Sisilia Bolilanga

Diskusi Kelompok Hari Pertama Doc. Kebijakan AIDS IndonesiaSebagai langkah awal pelaksanaan penelitian tahap pertama Pemetaan Kebijakan AIDS dan Sistem Kesehatan di Tingkat Nasional dan Daerah dilaksanakan workshop penyusunan protokol penelitian, sebagai acuan dalam melaksanakan penelitian. Workshop dilaksanakan di Hotel Santika Yogyakarta mulai tanggal 28 – 30 Januari 2014 dan diikuti oleh perwakilan peneliti universitas, anggota Consultative Group dan research advisor. Setelah didahului dengan kegiatan desk review pada bulan Agustus – Desember 2013, maka serangkaian kegiatan untuk penelitian tahap pertama akan dilakukan pada bulan Februari – Juli 2014.

Workshop dibuka oleh Principal Investigator (Ignatius Praptoraharjo, Ph. D) mewakili PKMK FK UGM dan diikuti oleh perwakilan dari Departmen of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Astrid Kartika dan Debbi Murheid. Sebuah pertanyaan reflektif dilontarkan oleh Ignatius Praptoraharjo dalam sesi pembukaan, Apakah sistem kesehatan memperkuat kebijakan AIDS di Indonesia atau sebaliknya? Pertanyaan ini sebenarnya yang melatarbelakangi dilakukan penelitian multicenter Kebijakan dan Program HIV-AIDS di Dalam Kerangka Sistem Kesehatan di Indonesia, kerjasama antara PKMK FK UGM, PPH Universitas Atma Jaya dan 9 universitas dari 8 propinsi dengan pendanaan sepenuhnya oleh DFAT.

Dalam sambutannya, perwakilan DFAT, Astrid Kartika memaparkan gambaran peralihan lembaga pemerintah Australia yang ada di Indonesia dari AusAID menjadi DFAT. Alasan mendasar mengapa kemudian DFAT mau mendanai penelitian ini adalah bahwa selama ini Indonesia kebanyakan masih menganut model donor-driven dalam pengembangan sebuah program. Sangat sedikit bahkan hampir tidak ada gerakan grassroot dari masing-masing daerah. Selain donor-driven, seringkali program juga bersifat vertikal atau centralistic. Dengan demikian kemudian program tersebut tidak terintegrasi dengan program kesehatan lain, misal program Prevention from Mother to Child Transmission (PMTCT) di layanan kesehatan ibu dan anak. Lebih lanjut, dikemukakan dua alasan utama yang melatarbelakangi penelitian, pertama DFAT ingin membantu pemerintah Indonesia (Kemenkes dan KPAN) mencari cara untuk keberlanjutan program AIDS di Indonesia, serta menginisiasi pengembangan knowledge management and hub dari tim inti penelitian dengan tim peneliti universitas untuk membangun dan memperluas jejaring yang dapat memperkuat sisi kebijakan. Dalam proses pengembangan knowledge management and hub, pelatihan analisis kebijakan kesehatan akan dikembangkan untuk membangun jaringan peneliti kebijakan kesehatan tidak hanya jaringan peneliti AIDS.

Debbie Murheid menambahkan bahwa penelitian ini ditujukan untuk pemerintah Indonesia untuk melihat AIDS dari sistem kesehatan yang ada di Indonesia. Perspektif AIDS dalam kerangka sistem kesehatan akan melihat program secara holistik, tidak terpisah-pisah. Kondisi di lapangan menunjukkan kebijakan AIDS masih terbatas pada vertikal, seperti rujukan kegawatdaruratan program HIV pada layanan KIA. Pemerintah Indonesia sepatutnya melihat sistem kesehatan secara luas dan merespon semua kebutuhan layanan kesehatan, baik dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), ketersediaan alat medis, seperti masalah distribusi tenaga kesehatan di daerah NTT dan Papua. Kerja sama antara setiap aktor pun menjadi kunci utama dalam implementasi kebijakan AIDS di Indonesia, apakah selama ini menjadi spesifik program di lembaga tertentu (contoh: Kemenkes, BPJS, BOK). Penelitian ini diharapkan juga dapat memberikan health system partnership AIDS learning, untuk menjawab kebutuhan implementasi program AIDS di daerah. Bagaimana gambaran di tingkat daerah dan nasional? Apakah pertanyaan penelitian, tujuan, metodologi dapat menjawab pertanyaan kebijakan? Oleh karenanya, diperlukan masukan dari semua pihak untuk saling melengkapi, termasuk bagaimana gambaran dan data dari daerah-daerah penelitian.

Agenda hari pertama setelah sesi pembukaan adalah pemaparan mengenai perkembangan penelitian yang telah dan akan dilakukan serta disampaikan pemaparan mengenai temuan awal kegiatan Desk Review. Setelah dilakukan tanya jawab dan diskusi, agenda dilanjutkan untuk membahas draft protokol penelitian yang telah dikirimkan kepada peserta dengan metode kerja kelompok. Pembagian kelompok didasarkan atas bagian-bagian yang ada di draft protokol penelitian. Hasil kerja kelompok selanjutnya dipaparkan dalam sesi awal pertemuan di hari kedua untuk mendapatkan kesepakatan-kesepakatan dari para peserta lainnya.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID