Pengantar Minggu ke-24 Tahun 2014

KOMPAS.com/Achmad FaizalPada tanggal 18 Juni 2014 mungkin menjadi hari terakhir nama daerah Dolly terdengar di Indonesia. Dolly merupakan sebuah daerah di Surabaya sebagai tempat transkasi seksual komersil terjadi. Dolly diyakini sebagai tempat transaksi seks komersil terbesar se Asia Tenggara. Pemerintah daerah kota Surabaya telah memutuskan pada tahun 2014 akan menutup Dolly sebagai tempat transaksi seks komersial. Persiapan telah dilakukan sejak awal tahun dan telah ditentukan bahwa satu hari lagi, tepatnya tanggal 18 Juni merupakan hari terakhir Dolly.

Satu bulan terakhir wilayah Surabaya khususnya Dolly menjadi hiruk pikuk terkait dengan hal tersebut. Satu kelompok mendukung rencana Pemkot Surabaya sedangkan pada kelompok lainnya menolak keras rencana tersebut. Pertimbangan ekonomi masih menjadi ganjalan yang dominan bagi rencana penutupan Dolly. Pedekatan yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya belum berhasil meyakinkan penghuni kawasan Dolly untuk berganti profesi.

Salah satu kekhawatiran dari dampak penutupan Dolly adalah penyebaran HIV dan AIDS yang semakin tidak terkendali. Sebagian besar penggiat AIDS meyakini bahwa praktek transaksi seks tidak akan berhenti setelah ditutupnya Dolly, tetapi hanya akan berubah bentuk dengan cara yang lebih terselubung. Hal ini berarti perilaku seksual yang berisiko terinfeksi HIV masih saja berlangsung dan justru sulit dikontrol. Sehingga program penanggulangan AIDS yang selama ini telah dikembangkan di Dolly tidak dapat lagi menyasar WPS (Wanita Pekerja Seks) secara tepat dan langsung.

Pertanyaan kritis dari pernyataaan diatas adalah apakah lokalisasi sebaiknya dilegalkan? Namun bukti ilmiah yang medukung lokalisasi dilegalkan atau ditutup belum ada. Sehingga tantangan penanggulangan AIDS dalam kerangka lokalisasi masih perlu dicari formatnya. Kebijakan AIDS dalam kerangkan sistem kesehatan nasional perlu menjadi perhatian dalam kerangka lokalisasi ini.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID