Pengantar Minggu Ke-28 Tahun 2014
Pada Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) tahun 2011 dan 2013 terjadi peningkatan prevanlensi HIV pada populasi Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL). Pada tahun 2007 prevalensi HIV sebesar tahun 5,3% meningkat menjadi 12,4%. Sedangkan pada daearah yang lain prevalensi HIV pada tahun 2009 sebesar 7,0% meningkat menjadi 12,8%. Peningkatan yang signifikan terjadi pada beberapa daerah yang meningkat menjadi lebih dari 100%. Berikut daftar peningkatan prevelansi HIV paa beberapa daerah:

Peningkatan prevalensi HIV pada populasi LSL menjadi peringatan yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Program penanggulangan AIDS populasi LSL selama ini telah menerapkan berbagai metode untuk merubah perilaku yang berisiko tinggi. Namun prevalensi HIV pada populasi LSL tetap saja naik. Hal ini berarti infeksi HIV baru masih terus berlangsung dan perilaku berisiko masih saja berlangsung pada populasi tersebut.
Hal ini juga akan menyebabkan pola penularan penularan bergeser kembali. Pada awal epidemi HIV di Indonesia penularan HIV ditentukan pada perilaku hubungan seks heteroseksual yang berisiko. Sedangkan sejak tahun 2000 perilaku penggunaan Napza suntik menjadi penentu. Bila benar sekarang prevalensi HIV pada populasi LSL meningkat maka penentu penularan HIV berubah menjadi perilaku hubungan seks homoseksual yang berisiko. Hal ini dipicu pula dengan besarnya jumlahnya estimasi populasi LSL yang diperkirakan oleh kemenkes.







