Pengantar Minggu Ke-45, Oleh: Iko Safika, Ph.D
Lelaki yang Berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) merupakan salah satu populasi yang rentan terhadap infeksi HIV. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS pada kelompok ini telah dilakukan lebih dari satu dekade tetapi kasus HIV tetap meningkat. Analisa Survey Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), misalnya melaporkan prevalensi HIV pada kelompok ini meningkat dari 5% di tahun 2007 menjadi 12% di tahun 2011[1]. Lebih lanjut, STBP 2009 dan 2013 juga melaporkan peningkatan prevalensi HIV, yaitu dari 7% menjadi 12,8%[2]. Penelitian-penelitian sosial pada kelompok ini juga melaporkan peningkatan perilaku seksual beresiko tertular HIV[3][4].
Penelitian-penelitian sosial diatas juga menyatakan bahwa LSL terdiri dari berbagai kategori, tidak hanya gay, tetapi juga lelaki yang berhubungan dengan wanita dan melakukan hubungan seks dengan lelaki karena alasan ekonomi. Mereka bervariasi menurut karakteristik demografinya (e.g. umur, tingkat pendidikan, sosial status dan jenis pekerjaan), serta lokasi/tempat dimana mereka nongkrong dan/atau mencari pasangan seksual (e.g. bar/karaoke/diskotik, jalanan atau hot spots, sauna, dan panti pijat). Beberapa dari mereka lebih terbuka dengan status “gay”nya, tetapi ada juga yang masih menyembunyikannya. Yang terjangkau program belum tentu yang paling rentan terhadap HIV infeksi. Ini sangat mengkhawatirkan mengingat tingginya proporsi LSL yang tidak mengetahui status HIVnya, sehingga menunda pengobatan antiretroviral therapy (ART)[5]. Isu stigma dan diskriminasi juga membanyangi kelompok ini ketika mengakses layanan HIV di fasilitas layanan kesehatan umum[6]. Untuk meningkatkan cakupan dan akses test HIV pada kelompok ini, maka diperlukan pelaksanaan beberapa strategi, mulai dari cara menemukan dan menawarkan test, metode test HIV yang digunakan, serta mekanisme rujukan ke tempat fasilitas kesehatan yang nyaman dan sesuai untuk kelompok ini.
Edisi minggu ini akan menampilkan upaya penanggulangan HIV dan AIDS pada kelompok LSL, mulai dari gambaran permasalahan dan program yang telah dilakukan, pelaksanaan strategi “mobile testing” di beberapa Sauna dan Panti Pijat di Jakarta, dan peran layanan swasta sebagai tempat rujukan dan pengobatan HIV pada kelompok ini.
[1]Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Laporan Survey Terpadu Biologi dan Perilaku pada Kelompok Populasi Kunci. Jakarta, Indonesia: Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular dan Lingkungan.
[2]Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Laporan Survey Terpadu Biologi dan Perilaku pada Kelompok Populasi Kunci. Jakarta, Indonesia: Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular dan Lingkungan
[3]Safika, I., Johnson, T., Cho Young, Ik., Praptoraharjo, Ignatius. 2013. Condom use among Men who Have Sex with Men and Male to Female Transgender in Jakarta, Indonesia. American Journal of Men’s Health. DOI: 10.1177/1557988313508430
[4]Morineau, G., Nugrahini, N., Riono, P., Nurhayati Girault, P., Mustikawati, D. E., & Magnani, R. 2011. Sexual risk taking, STI and HIV prevalence among men who have sex with men in six Indonesian cities. AIDS and Behavior, 15,1033-1044.
[5]The Indonesia Gay, Transgender and Lesbian (GWl-Ina network) and The Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS (APN+). 2013. Community Access to HIV Treatment Services Study in Indonesia. Jakarta: GWL-INA Network.
[6]Spirita. 2005. Stigma and discrimination among person living with HIV in Indonesia. Jakarta: Spritia.







