Oleh: Hersumpana Ignatius
Komitmen pemerintah Indonesia untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS cukup responsif. Pengarusutamaan Gender perlu diintegrasikan dalam pembangunan nasional sejak proses perencanaan, pelaksanaan, pemantuan dan evaluasi pembangunan sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing seperti dituangkan dalam Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 (Pasal 1) yang harus dilakukan oleh seluruh pejabat eksekutif mulai menteri, Kepala lembaga non departemen, Pimpinan Kesekretariatan lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Kepala Kepolisian, Panglima TNI, Jaksa Agung, hingga Gubernur dan Walikota. Instruksi Presiden ini menginstruksikan para eksekutif tersebut supaya memperhatikan secara sungguh-sungguh Pedoman Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional sebagaimana terlampir dalam Instruksi Presiden ini sebagai acuan dalam melaksanakan pengarusutamaan gender (Pasal 2).
HealthCanal, 20 April 2014
By Jeff Sheehy -New research from UC San Francisco and the San Francisco AIDS Foundation has found that clients participating in a harm-reduction substance use treatment program, the Stonewall Project, decrease their use of stimulants, such as methamphetamine, and reduce their sexual risk behavior.
Harm reduction is a public health philosophy and strategy designed to reduce the harmful consequences of various, sometimes illegal, human behaviors such as the use of alcohol and other drugs regardless of whether a person is willing or able to cease that behavior.
"We found that even when participants were using methamphetamine, they reported engaging in HIV risk-reduction strategies such as having fewer anal sex partners after enrolling in Stonewall," said the study's lead investigator, Adam W. Carrico, PhD., UCSF assistant professor of nursing.
OkeZone.Com, 19 April 2014
MANADO - Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sulawesi Utara (Sulut) Djouhari Kansil menyatakan 504 pekerja swasta terinfeksi HIV. Karena itu semua pihak harus memberikan perhatian serius terhadap peningkatan HIV/AIDS di kalangan pekerja.
"Berdasarkan data yang kami miliki, hingga saat ini karyawan swasta yang terinfeksi virus HIV sudah mencapai 504 orang, tentu hal ini harus disikapi dengan serius," katanya di Manado, Minggu (20/4/2014).
TribunNews, 17 April 2014
TRIBUNNEWS.COM, YOGYA - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Yogyakarta semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Yogyakarta menyebut sejak 2004 hingga 2013 ditemukan 677 kasus HIV/AIDS di Kota Gudeg.
Ironisnya tiga tahun terakhir, tren temuan kasus yang ada semakin meningkat jumlahnya. KPA menyebut 2011 terdapat 55 temuan kasus HIV/AIDS, 2012 sebanyak 81 kasus dan pada 2013 jumlahnya meningkat mencapai 111 kasus.
Liputan6, 15 April 2014
Liputan6.com, Kayuagung Kafe remang-remang di Bumi Bende Seguguk Ogan Komering Ilir (OKI) mungkin menjadi lahan subur penularan penyakit mematikan HIV/AIDS. Namun, kafe yang menyediakan Pekerja Seks Komersil (PSK) di Jalan Lintas Timur (Jalintim) OKI Sumatera Selatan (Sumsel) itu masih diminati warga. Bahkan, jumlah warung remang-remang kian menjamur.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten OKI Sumsel, sejak tahun 2010-2013, terdata sebanyak 74 orang warga di Kabupaten OKI yang terjangkit HIV/AIDS. Jumlah tersebut menyebabkan OKI termasuk daerah yang ditemukan pengidap HIV terbanyak setelah Kota Palembang dan beberapa kabupaten/kota lainnya. Salah satunya disebabkan oleh keberadaan kafe-kafe pinggiran yang berada di beberapa titik Jalintim OKI.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia