Tristan Troby"I remember when I started working on HIV prevention in 1989 researchers said that there would be a cure or a vaccine within 5-10 years. Unfortunately this was 25 years ago..."

Tristan Troby

Troby is an Expert on HIV Prevention & Education. Coordinator of AIDS Programme for Kurdistan at Ministry of Health & Kurdistan Save the Children currently lives in Iraqi Kurdistan. Follow him on Twitter: @TristanTroby

Oleh: Hersumpana

Ilustrasi | http://www.flickr.com/people/howardlakeSharing pengetahuan para aktifis dan peneliti kebijakan menegaskan kembali ‘identitas dan jati diri’ peran NGO dan lembaga Think-Thank[1]  dalam mendorong proses perubahan kebijakan publik.  Pelajaran yang bisa dipetik dari proses advokasi masyarakat untuk menciptakan tata kehidupan publik yang berkeadilan baik pada ideologis dan praktis.  Pengalaman menunjukkan bahwa advokasi kebijakan publik merupakan proses ‘tiada akhir’. Pengalaman advokasi publik dalam era otonomi daerah terkait masalah layanan dasar seperti kesehatan, anti korupsi, pemberdayaan masyarakat pedesaan (petani), agraria, dan pendidikan masyarakat sipil dalam perkembangan mengalami proses adaptasi terhadap perkembangan yang dipengaruhi konteks politik, sosial dan budaya [2]. Ada banyak faktor yang menentukan keberhasilan sebuah advokasi kebijakan publik baik dari sisi subtansi maupun prosedur. Tulisan ini melihat lesson learned pengalaman advokasi para aktifis dan peneliti yang mendefinisikan diri sebagai masyarakat sipil baik non government organisation (NGO) dan Lembaga Penelitian yang berperan sebagai Think-Thank.

Oleh : Chrysant L. Kusumowardoyo

Policy | iStockPerpres No. 72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional menyebutkan bahwa salah satu subsistem dalam sistem kesehatan nasional adalah manajemen dan regulasi kesehatan. Bila dirinci lagi, ada tiga dimensi utama dalam subsistem ini, yaitu: (1) apa saja kebijakan kesehatan yang mengatur tata kelola layanan kesehatan, (2) bagaimana kebijakan kesehatan tersebut dibuat, serta (3) seberapa jauh kebijakan tersebut responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Aspek-aspek penting dari subsistem kesehatan ini mencakup keterlibatan masyarakat dalam proses pengembangan kebijakan, pengajuan bukti-bukti yang mendasari dibuatnya kebijakan (evidence-based policy) serta seberapa kebijakan tersebut bisa dinilai atau ‘diaudit’ oleh publik.

Bill Gates sedang meminum air yang berasal dari kotoran manusia (YouTube/thegatesnotes)Andina Librianty | Jan 26, 2015

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Microsoft, Bill Gates, adalah salah seorang filantropis terkenal di dunia. Tak hanya soal teknologi, dia juga kerap dimintai tanggapan soal perkembangan ilmu pengetahun (sains).

Dalam acara Forum Ekonomi Dunia yang digelar di Davos, Swiss, Gates memberikan pendapatnya ketika ditanya soal prediksi sains 15 tahun ke depan. Gates mengawali jawabannya dengan pembahasan mengenai Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Acha Septriasa | AntaraNancy Junita | Senin, 26/01/2015

Bisnis.com, JAKARTA— Aktris Acha Septriasa rela memangkas rambut demi memerankan orang dengan infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dalam film "Nada Untuk Asa". 

"Biar lebih kelihatan depresi jadi potong rambut pendek saja," kata Acha usai pemutaran perdana film "Nada Untuk Asa" di Jakarta, Senin (26/1/2015). 

Keputusan Acha memotong rambut sempat ditentang oleh sang ayah, tapi diam-diam nekat melakukannya demi profesi.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID