Kompas, 10 September 2014

Pekerja seks dan penjaga berada di toko mereka yang tutup di kawasan Dolly, Surabaya, Rabu (18/6/2014) malam, setelah pemerintah kota resmi menutup kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara tersebut. AFP PHOTO / ROMEO GACAD KENDAL, KOMPAS.com — Hati-hati bagi Anda para lelaki hidung belang yang sudah beristri. Sebab, apabila ketahuan melacur oleh istrinya, seorang suami bisa dilaporkan ke polisi dengan tuduhan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Seperti yang dikatakan oleh Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Sri Purnama Rahayu, Rabu (10/9/2014), di sela-sela acara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-52 GOW di Gedung Juang 45, Kendal.

Sri Purnama menjelaskan, melacur bisa menyebabkan sang istri, secara psikis, terganggu. Di samping itu, sang istri juga bisa tertular penyakit. "Seorang istri akan tertekan hatinya bila mengetahui suaminya melacur. Ini bisa mengganggu kesehatannya," kata Sri Purnama.

Sindo News, 10 September 2014

PSK Dolly jualan di jalan (dok:Istimewa/Sindonews)SURABAYA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya mencatat, pasca penutupan lokalisasi Dolly, pada 18 Juni hingga kini, jumlah perempuan yang mengidap HIV/AIDS mencapai 50 orang.

"Para perempuan itu hasil tangkapan dari razia yang rutin digelar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya," kata Kepala Dinkes Kota Surabaya Febria Rachmanita, kepada wartawan, Rabu (10/9/2014).

Ditambahkan dia, selama razia, Satpol PP selalu melibatkan tim dari dinkes. Ketika Satpol PP berhasil menjaring perempuan yang diduga berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), tim dari dinkes akan melakukan pemeriksaan dan tes HIV.

Lensa Indonesia, 10 September 2014

Sejumlah perempuan diduga PSK terjaring dalam Razia Satpol PP Surabaya (Foto: iwan)Dampak penutupan Lokalisasi Dolly

LENSAINDONESIA.COM: Penutupan sejumlah lokalisasi di Surabaya belum menjamin penyebaran penyakit HIV/AIDS berkurang. Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya mencatat, pasca penutupan Lokalisasi Dolly pada 18 Juni hingga saat ini, jumlah PSK yang mengidap HIV/AIDS mencapai 50 orang. Para PSK ini adalah hasil tangkapan razia yang rutin digelar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Surabaya.

Kepala Dinkes Surabaya, Febria Rachmanita, mengatakan selama menggelar razia, Satpol PP selalu melibatkan tim dari Dinkes. Ketika Satpol PP berhasil menjaring perempuan yang diduga berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), tim dari Dinkes akan melakukan pemeriksaan dan tes HIV.

Baca juga: PSK Dolly disinyalir masih beroperasi secara terselubung dan Tanpa PSK, Lokalisasi Dolly mati suri

Solo Pos, 10 September 2014

Ilustrasi suasana salah satu rumah hiburan di Dolly sebelum ditutup, Juli 2014. (JIBI/Solopos/Dok.) Solopos.com, SURABAYA – Sentra hiburan dewasa di Surabaya yang kondang dengan sebutan Dolly telah ditutup. Nyatanya, penutupan lokasi prostitusi itu tak menjamin Surabaya bebas perempuan pekerja seks komersil (PSK). Bahkan, kala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya kembali merazia PSK, sedikitnya 50 orang yang tertangkap terdeteksi mengidap HIV/AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febrica Rachmanita mengatakan pascapenutupan lokalisasi Dolly dan Jarak, Juni 2014 lalu, Satpol PP gencar menggelar razia PSK dengan melibatkan tim kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit HIV/AIDS. langkah itu, menurut dia dilakukan agar para PSK yang tengidap HIV bisa segera ditaganu dengan diberikan obat antiretroviral (ARV).

Merdeka.Com, 10 September 2014

gang dolly. ©2014 merdeka.com/novita intan sariMerdeka.com - Sedikitnya 50 warga yang terjaring razia yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya teridentifikasi mengidap HIV/AIDS pascapenutupan lokalisasi Dolly pada 18 Juni lalu. Kadinkes Surabaya Febria Rachmanitia, mengatakan pihaknya mencatat pascapenutupan lokalisasi Dolly pada 18 Juni hingga saat ini, jumlah perempuan yang mengidap HIV/AIDS mencapai 50 orang.

"Para perempuan ini hasil tangkapan dari razia yang rutin digelar oleh Satpol PP Kota Surabaya," kata Febria Rachmanitia seperti dikutip dari Antara, Rabu (10/9).

Menurut dia, Satpol PP selalu melibatkan tim dari Dinkes setiap melakukan razia. Ketika Satpol PP berhasil menjaring perempuan yang diduga sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), tim dari Dinkes akan melakukan pemeriksaan dan tes HIV.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID