Tribun Jogja, 7 Desember 2014
TRIBUNJOGJA.COM, SURABAYA - Bocah berusia tiga tahun itu asyik bermain di Poli Unit Perawatan Intermidiate Penyakit Infeksi (UPIPI) di RSUD Dr Soetomo. Ini poli tempat para penderita HIV/AIDS menyambung hidup.
Tingkah bocah itu kadang sedikit usil. Memainkan timbangan yang biasa digunakan pengidap HIV menimbang berat badan. "Kalau hari Selasa, kebanyakan yang kontrol itu pasien anak-anak," tutur perempuan yang mengawasi bocah itu. (Baca Juga : Unair Ungkap Khasiat Teh Hijau Untuk Sembuhkan AIDS)
Perempuan 33 tahun itu biasa dipanggil Ade. Ia juga penderita HIV. Tapi hari itu tidak sedang antre obat. Ia berada di UPIPI untuk menjadi sukarelawan. Tugasnya membantu sesama, utamanya membantu membangkitkan kondisi psikologi pasien.
Liputan6, 8 Desember 2014
Liputan6.com, Jakarta Tidak ada yang membedakan Radiaz Hages Trianda (32) dengan orang-orang lain. Saat ditemui di rumahnya, kawasan Margonda, Depok, Kamis (4/12) lalu, Hages menyambut kami bersama anaknya dengan ramah.
"Susah, ya, mencari rumahnya? Rumah saya di sana, ayo silakan," kata Hages, panggilan akrabnya.
"Ini anak saya. Mirip dengan saya, ya?" katanya memperkenalkan anak terkecilnya yang berusia dua tahun. "Kakaknya," lanjut dia, "masih belum pulang sekolah."
Hages kemudian mengajak masuk ke rumahnya yang juga menjadi sekretariat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kuldesak. Di dalam rumah, suaminya, Samsu Budiman (37), sudah menunggu.
Di dalam rumah terdapat beberapa poster dan majalah mengenai HIV/AIDS. Lembaga Swadaya Masyarakat Kuldesak memang bergerak di bidang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba).
VOA Indonesia, 7 Desember 2014
Para ahli mengatakan perempuan berusia di bawah 25 tahun mendapatkan virus dari pria-pria berusia lebih tua.
JOHANNESBURG—Lolobrigitha Tsupa, 30, adalah perempuan warga Afrika Selatan yang terinfeksi HIV sejak usia 23 tahun.
Ia mengatakan keinginannya menjalani kehidupan berkecukupan dan serba cepat, membuatnya mencari teman laki-laki yang bisa menyediakan semuanya.
Namun Tsupa mengatakan ternyata ia mendapatkan lebih dari itu.
"Saya bertemu laki-laki yang punya uang, mengendarai mobil bagus, dan usianya sangat tua, seusia ayah saya. Ia membeli barang-barang untuk saya, hadiah, dan membawa saya bepergian. Itu kehidupan yang ingin saya jalani, yang tidak saya peroleh dari rumah, dan dari situlah saya tertular virus itu," ujarnya.
Pos Kota News, 8 Desember 2014
KEMBANGAN (Pos Kota) – Warga yang terkena penyakit HIV/AIDS di Jakarta Barat (Jakbar) terus meningkat. Sejak Januari hingga September 2014 tercatat penderita HIV sebanyak 309 orang dan penderita AIDS 736 orang. Jumlah ini meningkat dibanding data tahun 2013, di mana penderita HIV sebanyak 128 orang dan AIDS 139 orang.
"Peningkatannya cukup siginifikan, terutama untuk penderita AIDS. Kondisi ini harus mendapatkan perhatian dan penanganan serius," tegas Kasub bagian Komisi Pemberantasan AIDS (KPA) HIV/AIDS Jakbar, Suparjan, kemarin.
Penderita HIV, penularannya didominasi melalui jarum suntik mencapai 40-68 persen. Sedangkan penularan melalui hubungan suami-istri mencapai 38-40 persen. Secara kasat mata penderitanya tidak dapat dilihat dari keadaan fisiknya. Tapi harus diperiksa melalui tes HIV dan AIDS.
Sriwijaya Post, 8 Desember 2014
SRIPOKU.COM, SEKAYU - Penderita penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) sepertinya tiap tahun mengalami peningkatan.
Pada tahun 2013 penderita penyakit yang belum ada obatnya ini sebanyak 8 orang kini pada tahun 2014 menjadi 17 orang.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Muba dr Sriwijayani melalui Kabid P2PL Candra SKm mengatakan, hingga saat ini total yang positif terjangkit penyakit HIV sebanyak 41 orang.
Sejak tahun 2011 ada 4 orang, 2012 sebanyak 12 orang, untuk tahun 2013 mengalami penurunan menjadi 8 orang dan pada 2014 naik menjadi 17 orang penderita.
"Sejak tahun 2011 hingga 2014, ada 4 warga yang meninggal akibat mengidap dan rata rata yang dominan mengidap penyakit ini adalah laki laki," ungkap Candra.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia