Penulis: Tim Universitas Indonesia(1) Zaki Dinul, (2) Kurnia Sari, (3) Mardiati Nadjib
Tulisan ini merupakan Reportase tim PKMK saat penyelenggaraan Konferensi Nasional InaHEA. Sebagai penyaji presentasi adalah Zaki Dinul.
PKMK – HIV/ AIDS merupakan salah satu permasalahan kesehatan dunia yang membutuhkan biaya pengobatan mahal. Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) cenderung mengeluarkan biaya sendiri yang cukup besar termasuk pelayanan rawat jalan. Semakin lama pengobatan yang dilakukan justru makin meningkatkan OOP HIV/ AIDS. Berdasarkan data UNAIDS tahun 2013, Zaki menyatakan bahwa ada 610.000 kasus di Indonesia bahkan 1.005-nya terjadi di Jakarta Timur.
Merdeka.com - Panitia olimpiade musim dingin di Kota Sochi, Rusia mengaku mendistribusikan sekitar 100 ribu kondom. Barang ini untuk dibagikan pada para atlet berpartisipasi di ajang olahraga itu.
Surat kabar the Huffington Post melaporkan, Jumat (7/2), komite olimpiade ini mengatakan pembagian kondom dimaksudkan agar para atlet terhindar dari virus HIV-AIDS. Dari 2.800 atlet berpartisipasi berarti satu orang mendapatkan 35 kondom sepanjang pelaksanaan pekan olahraga itu.
Sosialisasi penggunaan kondom kepada masyarakat terutama kelompok berisiko harus terus dilakukan untuk mencegah penularan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.
Berdasarkan data Komisi Penanggualangan AIDS Nasional (KPAN), sekitar 77% penularan HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seks. Sekretaris KPAN Kemal Siregar mengatakan di Jakarta, Minggu, kelompok berisiko menjadi populasi kunci yang memegang peran penting dalam penularan HIV/AIDS. Yang termasuk kelompok berisiko itu yakni wanita tuna susila (WTS) atau pekerja seks komersial (PSK), laki-laki pembeli seks komersial, dan kaum homoseksual.
KIGALI, RWANDA – Seorang perempuan Rwanda belum lama ini membunuh suaminya, setelah sang suami mewarisi seorang janda yang suaminya diduga telah meninggal akibat AIDS yang tak dapat diobati, demikian laporan media lokal, Rabu (5/2/2014).
Dalam peristiwa aneh itu, yang terjadi di Gisagara, satu kabupaten di Rwanda Selatan, perempuan setengah baya tersebut –Annonciata Kampororo– melaksanakan rencana untuk membunuh suaminya, yang berusia 48 tahun, Anaclet Majyambere, setelah ia mendapat warisan istri dari mendiang saudara laki-lakinya.
Surat kabar bumiputera setempat “Umuryango” dengan mengutip keterangan warga desa dan polisi melaporkan perempuan itu sebelumnya menentang keras rencana suaminya untuk mewarisi janda itu, karena khawatir ia juga akan terinfeksi.
Merdeka.com - Legalisasi lokalisasi bagi para wanita tuna susila (WTS) saat ini masih menjadi kontroversi. Saat kontroversi mengenai lokalisasi ini kian santer, organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) mewacanakan legalisasi lokalisasi.
Keputusan itu bukan asal ngomong, melainkan hasil dari bahtsul masail, atau pembahasan masalah-masalah terkini dengan dicarikan dasar dari kitab-kitab fiqih ulama terdahulu.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia