Pikiran Rakyat, 16 Juli 2014

MAJALENGKA,(PRLM).- Setiap bulan penderita HIV/AIDS di Kabupaten Majalengka bertambah empat orang, penularan hampir rata-rata disebabkan oleh prilaku sek di luar nikah, untuk menangani persoalan tersebut butuh advokasi dari berbagai pihak dan dukungan materi untuk terus melakukan pemeriksaan terhadap mereka yang rentan terjangkit.

Menurut keterangan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka H.Ali ALimudin disertai stafnya Dede Pranoto yang juga anggota Komisi Perlindungan AIDS (KPA) Kabupaten Majalengka, tahun 2013 lalu jumlah penderita HIV/AISD baru mencapai 103 orang, selama tujuh bulan terjadi penambahan hingga mencapai 28 orang.

the Province, 16 July 2014

A Chinese man gets a free HIV test during a World AIDS Day public awareness campaign. Photograph by: STR , AFP/Getty ImagesEarly HIV infection is difficult for doctors to diagnose using clinical exam skills alone, according to a new B.C. study by the B.C. Centre for Excellence in HIV/AIDS.

The report, published in the July 15 issue of the Journal of the American Medical Association, analyzed data from 24,000 patients and found early symptoms of HIV are often too non-specific for doctors to recognize, meaning they may miss opportunities to refer patients for HIV testing.

"It's not meant to be critical of physicians, it's meant to highlight the need for routine testing," said Dr. Evan Wood, lead author and Canada Research Chair in Inner City Medicine at UBC.

the Age National, 15 July 2014

The Australian response to the HIV/AIDS crisis in the 1980s was one of the most effective in the world.  Read more: http://www.theage.com.au/national/education/voice/communication-and-health-policy-creation-during-the-australian-hivaids-crisis-20140715-3byt8.html#ixzz37eKRYDoIThe early 1980s saw countries around the world scramble to develop policy responses to what was then an unknown, highly infectious disease with no cure. In Australia, under a new federal government, heated public debate took place against a backdrop of new medical discoveries, a long campaign for gay rights and an at-times panicked media landscape.

The Australian government's response to the AIDS crisis is widely recognised as being one of the most successful in the world, commended today for its pragmatism, creativity and effectiveness in harm minimisation.

Kompas, 15 Juli 2014

Ilustrasi pasangan dan penyakit HIV AIDS Shutterstock KOMPAS.com - SEPULUH tahun lalu, Cita (32) terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya, Kepulauan Bangka Belitung. Masyarakat menolak dia dan suaminya untuk tinggal di sana. Bahkan, keluarga mertuanya ikut mengucilkan mereka. Hal itu karena ia mengidap HIV.

Ia tertular virus HIV dari suaminya yang pernah jadi pengguna narkoba. "Saya tahu positif HIV setelah anak pertama saya meninggal beberapa bulan setelah lahir. Waktu itu saya disarankan tes HIV," tutur Cita, ibu rumah tangga sekaligus aktivis Yayasan Rumah Sebaya dalam acara bincang bertajuk "Zaids Care–Getting to Zero", Sabtu (12/7), di Jakarta. Acara itu digelar Yayasan AIDS Indonesia (YAI).

Kompas, 15 Juli 2014

Ilustrasi pasangan gay. Shutterstock KOMPAS.com - Tingkat penularan HIV/AIDS pada kelompok pria homoseksual, pekerja seks komersil, dan narapidana, termasuk tinggi sehingga menjadi ancaman dalam perjuangan melawan AIDS.

Oleh sebab itu, organisasi kesehatan dunia (WHO) sangat merekomendasikan pria gay untuk mengonsumsi obat antiretroviral sebagai usaha melindungi diri sendiri dari infeksi HIV, selain menggunakan kondom.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID