Oleh: Iko Safika, Ph.D.

Iko Safiko, Ph.DPeningkatan kasus HIV di kalangan Lelaki berhubungan seks dengan Lelaki (LSL) membutuhkan penggunaan beberapa strategi yang tepat sasaran, terlebih dengan fakta bahwa LSL sangat bervariasi dari jenis dan tipenya. Salah satu solusi untuk mengurangi hambatan dalam mengakses jam layanan dan tingginya stigma dan diskriminasi yang dialami di fasilitas kesehatan adalah strategi menjemput bola dengan pelaksanaan Mobile testing.  Mobile testing melalui pendekatan tempat atau venue-based testing[1]telah banyak didokumentasikan sebagai strategi yang efektif dalam menjangkau dan meningkatkan cakupan test HIV dikalangan LSL. Sauna dan Panti Pijat yang bertebaran di wilayah Jakarta, merupakan tempat/lokasi yang biasa digunakan LSL untuk nongkrong dan/atau mencari pasangan seksual.

Oleh: Sisilya Bolilanga; Editor: Iko Safika

Workshop Pengumpulan DataSeperti yang diketahui, penelitian "Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional" dilakukan oleh 9 (sembilan) universitas di masing-masing provinsi yaitu Universitas Sumatera Utara, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, Pokdisus– Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Udayana, Universitas Nusa Cendana, Universitas Hassanudin, Universitas Negeri Papua dan Universitas Cendrawasih. Dalam menjawab tujuan dan pertanyaan penelitian, pengumpulan data primer dan sekunder telah dilakukan pada bulan Mei dan Agustus 2014. Proses pengumpulan data menunjukan keberagaman dan berbeda sesuai dengan situasi masing-masing daerah, terutama dalam konteks upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Artikel ini bermaksud untuk menggambarkan proses dan tantangan pengumpulan data primer dan sekunder yang dialami para peneliti universitas.

healthsystemSumber daya manusia yang kompeten, baik level manajerial maupun level pelaksana di lapangan merupakan salah satu tantangan dalam upaya integrasi. Beberapa tenaga teknis di lapangan misalnya; Petugas Penjangkau dan Pendamping, Konselor HIV dan AIDS, Manajemen Kasus, dan buddies masih dirasakan kurang baik dalam hal jumlah maupun kapasitas oleh sebagian besar informan dalam penelitian ini. Sedang di level penyedia layanan kesehatan, Kemenkes telah membuat kebijakan tentang Pedoman Pengadaan Tenaga Kesehatan dengan Perjanjian Kerja di Sarana Kesehatan Milik Pemerintah, yakni Permenkes No. 1199/Menkes/PER/X/2004. Regulasi ini masih dirasa kurang memayungi karena kebutuhan sumber daya manusia di program HIV dan AIDS tidak hanya di sarana kesehatan milik pemerintah, tapi di instansi terkait lainnya.

Self Test of HIV | namibiansun.comSejak tahun 2013 berkembang program yang mendorong penerapan tes HIV secara mandiri atau dikenal dengan HIV self‑testing (HIVST). Program ini memungkinkan orang tanpa berlatabelakang medis dapat melakukan tes HIV sendiri. HIVST ini merupakan tes yang dapat dilakukan secara pribadi (private) – tanpa melibatkan orang lain. Namun, tes ini tidak bisa menentukan seseorang terinfeksi HIV atau tidak, masih diperlukan tes konfirmasi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Mungkinkah diimplementasikan di Indonesia? Apa saja adaptasi yang harus dilakukan bila harus diterapakan di Indonesia? Bagaimana sistem kesehatan nasional dapat mengakomodasi hal tesebut?

Oleh: Muhammad Suharni; Editor: Iko Safika

Prof. Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc., Ph.D.Prof. Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc, Ph.D[1] merupakan salah satu pembicara dalam workshop analisis penelitian “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional”, kerjasama Pusat Kebijakan dan Managemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PKMK-UGM) dan Department Foreign Affairs and Trade (DFAT), pemerintah Australia. Prof. Wiku berbagi pengalaman penelitian yang melihat sejauh mana integrasi program Global Fund TB, Malaria dan HIV kedalam Nasional program dan sistem kesehatan. Diskusi bersama Prof. Wiku diharapkan membantu para peneliti dari 9 universitas yang terlibat dalam penelitian ini dengan menguatkan pemahaman tentang konsep integrasi dan cara pengukurannya.

Supported by

AusAID