0
0
0
s2smodern

Kursus Online Kebijakan AIDSBerpijak pada pengalaman dan keinginan PKMK-FK UGM bekerja sama dengan DFAT (Program Kerjasama Australia – Indonesia untuk HIV) membuka kesempatan bagi para penggiat HIV-AIDS untuk mempejalari mengenai kebijakan AIDS dan sistem kesehatan. Kesempatan ini merupakan gelombang kedua setelah pada gelombang pertama hanay diberikan kesempatan pada peneliti universitas. PKMK-FK UGM merasa penting untuk memperluas kesempatan terutama pada penggiat HIV-AIDS di Indonesia.

Hal ini penting karena belum banyak penggiat AIDS yang mempelajari seluk beluk kebijakan kesehatan. Padahal, penanggulangan AIDS dalam kontek kebijakan dan pelaksanaan sangat erat dan tidak bisa dilepaskan dengan sistem kesehatan yang berlaku. Oleh karena itu penggiat AIDS paling tidak paham mengenai sistem kesehatan dan kebijakan AIDS. Paling tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan berikut:

0
0
0
s2smodern
0
0
0
s2smodern

Narasumber : Mubasysyir Hasan Basri  (PMKK FK UGM)

Pengantar

Webinar ke – 8  ini menghadirkan Pak Mubasysyir kembali memberikan materi tentang bagaimana cara membuat paper kebijakan. Pak Mubasysyir memberikan panduan referensi untuk pengantar diskusi yakni   How To Write  a paper  (Mike Ashby, engineering Deparment, University of Cambridge, 6sth edition 2005,  How to write an absolutely great Research paper , Rob Edmondson, University of Hawai dan  sebuah poster   tentang 12 1/5  The only Writing rules  you’ll ever need).

Pembahasan Materi

Alur pembahasan dari topik penulisan paper kebijakan HIV ini meliputi  beberapa poin pokok berikut:

 Membahas cara membuat paper  (how to write a paper) secara khusus membuat sebuah paper research yang bagus  sebagai tujuan ini membutuhkan prasyarat wajib.  Tip-Tip yang penting untuk dilakukan oleh seorang peneliti agar memiliki ketrampilan menulis yang baik berangkat dari sebuah poster 12  1/5  aturan menulis.

0
0
0
s2smodern
0
0
0
s2smodern

Narasumber :  Kurniawan Rahmadi (Pokdisus RSCM UI)

Pengantar

Diskusi Webinar ke-6 mengambil tema tentang Kebijakan Obat HIV di Indonesia yang dipandu oleh Kurniawan Rahmadi dari Pokdisus RSCM UI.

Introduksi

WTO adalah lembaga perdagangan dunia yang mengatur tentang HAK CIPTA. Salah satunya adalah obat atau kefarmasian. segala hal yang berkaitan dengan kesehatan dan kefarmasian. Kalao produks kesehatan itu dipatenkan, generiknya baru bisa dikeluarkan setelah 20 tahun. Kenapa obat? Ada tiga poin penting terkait dengan obat, yakni hak asasi manusia dan kalau tidak bisa diakses karena mahalnya obat itu merupakan diskriminasi terbesar untuk negara-negara berkembang. Tetapi ketika berkat konvensi Doha tahun 2001, TRIP’S dapat dibatalkan untuk alasan kesehatan masyarakat, dan bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan serta tidak perlu bernegosiasi dengan pemilik paten. 

0
0
0
s2smodern
0
0
0
s2smodern

Narasumber:   Deni Herbianto, SE (PKMK FK UGM) dan  Muhammad Hudallah (NU)

Pengantar

Webiner ke- 7  ini akan diantar oleh Deni Herbianto (PKMK FK UGM) dan  Huda  (NU) yang akan mendiskusikan pembiayaan  HIV dan AIDS di Indonesia. Deni Harbianto bersama PKMK aktif mengembangkan studi kebijakan dan Manajemen Kesehatan. Mas Huda merupakan praktisi yang terlibat sebagai partner GF.

Huda:

Informasi pembiayaan global fund di Indonesia khususnya terkait dengan rencana pengembangan new funding model.  Kebetulan baru tiga bulan mendapatkan dana dari GF. NU menjadi salah satu partner GF bersama 3 Organisasi lain yang bekerja di 33 propinsi  di Indonesia. Dari ke-4 PR itu masing-masing bekerja di beberapa pronpinsi. Perjanjian dengan global fund masing-masing mendapatkan partner-partner lokal berjenjang masing-masing PR memiliki SR dan SR memiliki SSR.

0
0
0
s2smodern