Selasa, 25 Maret 2005
Oleh: M.Suharni
Pokok bahasan sesi pertama hari kedua diampu oleh dr Trijoko Yudopuspito, M.Sc PH. Pada sesi ini pengampu memulai dengan materi Dasar Advokasi Kebijakan; Deteksi, Diagonis dan Penanganan Dini HIV dan AIDS. Landasan kebijakannya antara lain adalah; Permenkes 21/2013 tentang Penganggulangan HIV dan AIDS. Permenkes 290/2008 tentang persetujuan Tindakan Kedokteran dan Permenkes 269 tahun 2009 tentang rekam medis, Permenkes 36/2012 ttg Rahasia Kedokteran, Permenkes 37/2012 tentang Penyelenggaraan Laboratorium, dan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Penanggulangan adalah segala upaya yang meliputi pelayanan promotif, preventif, diagnosis, kuratif dan rehabilitatif yang ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan, angka kematian, membatasi penularan serta penyebaran penyakit agar wabah tidak meluas ke daerah lain serta mengurangi dampak negatif yang ditimbulkannya. Penanggulangan meliputi; promosi kesehatan, pencegahan penularan HIV, pemeriksaan diagnosis HIV, pengobatan, perawatan dan dukungan, dan rehabilitasi. Pendekatan diagnosis dilakukan dengan cara Voluntary Counseling Test (VCT) dan Provider Initiative Testing and Counseling (PITC) yang diatur dengan peraturan teknis.
Senin, 24 Maret 2014
Oleh: Sisilya Oktaviana Bolilanga
Hari pertama kursus terintegrasi tatap muka dan online diawali dengan gambaran pelatihan selama 5 hari ke depan. Tujuan kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pembekalan kepada para peneliti universitas mengenai metodologi penelitian yang akan dilakukan, termasuk konsep penelitian, desain penelitian, metode pengumpulan data serta analisis data. Keberagaman latar belakang profesi dan pengalaman peneliti lokal yang terlibat dalam penelitian ini cukup bervariasi, untuk itu dirasa perlu menyamakan persepsi tentang analisis kebijakan dan bagaimana itu dilakukan. Keluaran akhir yang diharapkan dari pembelajaran ini ialah terbentuknya para ahli analisis kebijakan HIV dan AIDS. Hal ini cukup strategis dilakukan untuk meningkatkan peran para akademisi dari perguruan tinggi sebagai aktor kunci untuk memperbaiki kebijakan-kebijakan kesehatan agar menjadi lebih baik degan melakukan advokasi kebijakan publik AIDS di daerah. Terkait juga dengan komponen ketiga Tridharma Universitas yaitu pengabdian masyarakat.
Dalam konteks pencegahan dan penanggulangan AIDS, ada beberapa pertanyaan strategis:
Saat ini ada pandangan bahwa kebijakan AIDS kurang dilihat sebagai bagian dari sistem kesehatan, meskipun pada sisi yang lain telah banyak upaya dilakukan untuk mengkaitkan kebijakan AIDS ini dengan sistem kesehatan. Sebagai gambaran, pelayanan kuratif di RS dan preventif masih mempunyai berbagai hambatan, anggaran AIDS masih tergantung pada donor, bukan dari pendapatan asli daerah, hubungan Dinas Kesehatan di daerah dengan KPAD bervariasi dengan pola yang tidak jelas. Sejarah AIDS di Indonesia memang memperlihatkan bahwa pelaku-penting AIDS tidak hanya Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan. Pelaku-pelaku utama justru dari swasta dan unit lainnya. Hal ini merupakan hal yang baik, namun tanpa koordinasi tentunya akan menjadi kurang baik. Tantangannya adalah bagaimana menempatkan kebijakan AIDS ini dalam sistem kesehatan yang ada, jika kebijakan AIDS adalah kebijakan kesehatan? Untuk itulah diperlukan berbagai pengembangan kebijakan AIDS.
Tahapan pengembangan kebijakan AIDS perlu diawali dengan mengembangkan agenda kebijakan, kemudian merumuskan naskah akademik kebijakan, melalui proses legislasi, implementasi kebijakan, mengevaluasi kebijakan serta merumuskan rekomendasi untuk perubahan kebijakan. Di level mana kebijakan akan diimplementasikan juga perlu ditentukan, apakah di tingkat pusat, provinsi, atau kabupaten. Isu kebijakan adalah isu hulu yang nantinya berimplikasi terhadap network, tidak hanya pada kacamata HIV, tetapi melibatkan sektor lain yang sangat penting. Bagaimana mengintegrasikan hal tersebut?
Problematika tentang analisis kebijakan seperti digambarkan di atas, saat ini belum banyak dipahami oleh para penggiat AIDS dari berbagai kalangan sehingga kebijakan AIDS dewasa ini cenderung mereplikasi berbagai kebijakan yang dikembangkan di tingkat internasional dan regional. Oleh karena itu, PKMK FK UGM bermaksud untuk mengembangkan sebuah kursus tentang “Kebijakan AIDS dan Sistem Kesehatan” serta penelitiannya bagi para peneliti dan penggiat AIDS di Indonesia. Kursus ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan dari peserta dalam Forum Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia sebagai bentuk penguatan kapasitas anggota jaringan untuk analisis kebijakan AIDS.
Info lebih lanjut klik brosur dibawah ini:
Created: Senin, 27 Januari 2014 15:52 | Size: 482.15 KB | Downloads: 1,284
Dalam konteks pencegahan dan penanggulangan AIDS, ada beberapa pertanyaan strategis:
Saat ini ada pandangan bahwa kebijakan AIDS kurang dilihat sebagai bagian dari sistem kesehatan, meskipun pada sisi yang lain telah banyak upaya dilakukan untuk mengkaitkan kebijakan AIDS ini dengan sistem kesehatan. Sebagai gambaran, pelayanan kuratif di RS dan preventif masih mempunyai berbagai hambatan, anggaran AIDS masih tergantung pada donor, bukan dari pendapatan asli daerah, hubungan Dinas Kesehatan di daerah dengan KPAD bervariasi dengan pola yang tidak jelas. Sejarah AIDS di Indonesia memang memperlihatkan bahwa pelaku-penting AIDS tidak hanya Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan. Pelaku-pelaku utama justru dari swasta dan unit lainnya. Hal ini merupakan hal yang baik, namun tanpa koordinasi tentunya akan menjadi kurang baik. Tantangannya adalah bagaimana menempatkan kebijakan AIDS ini dalam sistem kesehatan yang ada, jika kebijakan AIDS adalah kebijakan kesehatan? Untuk itulah diperlukan berbagai pengembangan kebijakan AIDS.
Tahapan pengembangan kebijakan AIDS perlu diawali dengan mengembangkan agenda kebijakan, kemudian merumuskan naskah akademik kebijakan, melalui proses legislasi, implementasi kebijakan, mengevaluasi kebijakan serta merumuskan rekomendasi untuk perubahan kebijakan. Di level mana kebijakan akan diimplementasikan juga perlu ditentukan, apakah di tingkat pusat, provinsi, atau kabupaten. Isu kebijakan adalah isu hulu yang nantinya berimplikasi terhadap network, tidak hanya pada kacamata HIV, tetapi melibatkan sektor lain yang sangat penting. Bagaimana mengintegrasikan hal tersebut?
Problematika tentang analisis kebijakan seperti digambarkan di atas, saat ini belum banyak dipahami oleh para penggiat AIDS dari berbagai kalangan sehingga kebijakan AIDS dewasa ini cenderung mereplikasi berbagai kebijakan yang dikembangkan di tingkat internasional dan regional. Oleh karena itu, PKMK FK UGM bermaksud untuk mengembangkan sebuah kursus tentang "Kebijakan AIDS dan Sistem Kesehatan" serta penelitiannya bagi para peneliti dan penggiat AIDS di Indonesia. Kursus ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan dari peserta dalam Forum Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia sebagai bentuk penguatan kapasitas anggota jaringan untuk analisis kebijakan AIDS.
Merupakan model campuran (Blended) antara tatap muka dan web-based-learning.
Peserta tidak dipungut biaya untuk mengikuti kursus ini, namun akan ada seleksi.
Muhammad Suharni
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Mobile: +628127834544
Atau
Eviana Hapsari Dewi
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Mobile: +6282133739581
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia