Carlos F. Cáceresa, Peter Aggletonb, and Jerome T. Galeac

Ilustrasi | Kebijakan AIDS IndonesiaTerlepas dari berbagai macam program penanggulangan HIV pada lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) dan, lebih umum lagi, pada populasi yang memiliki keberagaman seksual, gay dan  kelompok lelaki homoseksual yang aktif lainnya yang meningkatkan resiko penularan HIV dan juga konsekuensi lainnya. Tulisan ini menganalisis beberapa alasan atas situasi ini dan menawarkan rekomendasi kebijakan dan programatik untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang ada. Sosial eksklusi dari kelompok LSL dan transgender merupakan kenyataan yang banyak terjadi di berbagai negara di dunia. Meskipun beberapa negara sudah mencapai kemajuan, namun pada sebagian besar negara didunia, hal ini masih menjadi permasalahan. Tantangan yang ada saat ini adalah terkait dengan kesetaraan dan realisasi kesehatan, termasuk keanggotaan dari kelompok atau suku budaya dengan prevalensi HIV yang tinggi, kualitas dan cakupan layanan serta program yang rendah, termasuk juga dampak dari pengaruh pada tingkat yang lebih tinggi seperti faktor hukum, kebijakan publik, norma sosial dan kebudayaan, yang mana secara bersama-sama mengkonfigurasi lingkungan yang menghambat atau bertentangan dengan terjadinya integrasi dan kebutuhan kelompok-kelompok tertentu.

Oleh: M.Suharni

Pengantar

LGBT Rainbow Health | ucdmc.ucdavis.eduBerakhirnya Millennium Development Goals  (MDGs) tahun 2015 dan berubah ke Sustainable Development Goals (SDGs) 2016 merupakan perubahan besar dalam penanggulangan HIV dan AIDS. MDGs yang pada praktiknya sangat eksklusif sehingga kebijakan dan program HIV dan AIDS yang  eksklusif  menyisakan  permasalahan yang mesti dicarikan solusinya. Seperti,  program pada kelompok  Lesbian Gay Bisexual and Transgender (LGBT) yang sampai saat ini masih mengalami tantangan yang berat terkait stigma dan diskriminasi.  Sebaliknya, SDGs yang mulai dari setting hingga agenda yang ditetapkan telihat lebih inklusif dan komprehensif dan  upaya penanggulangan HIV dan AIDS di kelompok LGBT ditujukan  untuk pencapaian universal health access.   

Tulisan ini bertujuan membahas bahwa pentingnya  isu inklusi sosial  LGBT  dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS karena adanya kebutuhan khusus mereka  yang selama ini terabaikan untuk mencapai universal health access. Pengabaian ini terjadi  karena ekslusi sosial LGBT  dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang mengakibatkan  diskriminasi dan stigma dalam upaya kesehatan. Diskriminasi menghambat mereka untuk  mengakses hak layanan kesehatan dan  berpartisipasi secara penuh dalam  aspek sosial, ekonomi,  dan politik termasuk untuk akses kesehatan.

POTRETNEWS.com | Selasa, 26 Januari 2016

Wakil Bupati Indragiri Hilir, Riau, H Rosman Malomo saat memberikan sambutan saat penerimaan penghargaan. | potretnewscom bjfum 2860TEMBILAHAN, POTRETNEWS.com - Wakil Bupati Indragiri Hilir (Inhil), Riau, H Rosman Malomo belum lama ini mengatakan, berkat sinergitas dan kerja sama yang baik Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Inhil mendapat penghargaan terbaik se-Sumatera bahkan internasional.

"Kita patut berbangga hati, apa yang telah kita upayakan sejauh ini telah membuahkan hasil positif. Untuk itu, kita jangan cepat berpuas hati, tapi makin memacu kita untuk memberikan yang terbaik untuk daerah," imbuh Rosman.

Oleh: Kent Buse, Jonathan Jay, Morolake Odetoyinbo

The LancetGerakan penanggulangan HIV dan AIDS saat ini menunjukkan cukup banyak keberhasilan, antara lain penurunan jumlah infeksi mulai dari 3.1 juta menjadi 2.0 juta sejak tahun 2000 dan kematian yang terkait dengan AIDS juga sudah menurun sekitar 40% sejak 2005. Lebih dari 15 juta orang saat ini sudah bisa mengakses pengobatan. Meskipun demikian, AIDS masih menjadi penyebab utama kematian pada wanita usia subur dan penyebab kematian utama di Afrika – termasuk pada kelompok muda.

Oleh: Ita Perwira

Sustainable Development GoalsAkhir tahun 2015 kemarin menandai berakhirnya Millenium Development Goals (MDGs) dan memasuki awal tahun 2016 ini, telah diluncurkan agenda baru yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs) yang berisikan 17 tujuan utama untuk membangun dunia yang lebih baik tanpa ada satu pun yang tertinggal (to build a better world with no one left behind). Berbeda dengan MDGs yang pada dasarnya lebih diarahkan pada negara dengan pendapatan rendah atau menengah, SDGs bersifat lebih universal, termasuk meliputi berbagai permasalahan kesehatan di berbagai negara sebagai komitmen global bersama dalam kerangka yang lebih luas dari pembangunan yang berkelanjutan.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID