Panduan yang disusun oleh WHO dan di luncurkan pada bulan Mei 2015 kemarin memberikan petunjuk konsolidasi, prioritas dan gambaran indikator kunci yang dapat digunakan untuk mengawasi dan memantau respon sektor kesehatan terhadap penanggulangan HIV dan AIDS baik di tingkat nasional maupun global. Tujuan utama dari panduan ini adalah membantu masing-masing negara untuk memilih, mengumpulkan dan menganalisa secara sistematis informasi strategis yang ada agar dapat dimanfaatkan oleh sektor kesehatan untuk melakukan respon penanggulangan HIV dan AIDS. Tujuan dari dilakukannya konsolidasi adalah untuk memastikan bahwa seluruh indikator ada di satu tempat, menjadi prioritas dan terhubung dalam suatu rantai hasil, dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung layanan yang berkualitas dalam cascade layanan HIV di sektor kesehatan.
Manual ini secara komprehensif menyediakan panduan praktis bagi penyedia layanan kesehatan agar dapat meningkatkan responnya dalam masalah kekerasan terhadap perempuan. Manual ini ditulis untuk negara berkembang, dengan tujuan untuk mengatasi kesenjangan dalam penelitian dan literatur tentang cara mengintegrasikan respon kekerasan terhadap perempuan ke dalam sektor kesehatan. Dalam pembahasannya, manual ini mengedepankan perspektif layanan kesehatan berbasis hak.
Oleh : Chrysant Lily
Antara tanggal 25 November sampai 10 Desember, warga dunia memperingati beberapa hari internasional yang penting seperti Hari Internasional Melawan Kekerasan terhadap Perempuan pada 25 November, Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember, dan Hari Internasional Hak Asasi Manusia pada 10 Desember. Sejak tahun 1991, hari-hari ini diperingati dengan sebuah kampanye internasional yang dikenal dengan Kampanye 16 Hari Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan[1]. Kampanye 16 Hari menegaskan bahwa ada berbagai hubungan antara hari-hari internasional yang ditetapkan oleh PBB ini, antara lain bahwa Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP)[2] merupakan suatu bentuk pelanggaran hak asasi manusia, KTP mempertinggi resiko penularan HIV, dan sebaliknya status HIV positif juga membuat perempuan semakin rentan mengalami kekerasan. Artikel ini akan secara ringkas menyoroti peran sektor kesehatan dalam meresponi tidak saja masalah HIV tetapi juga isu KTP.
Seth M. Noar1,2 and Rick S. Zimmerman1
Walaupun penelitian tentang Teori Perilaku Kesehatan (HBT) berkembang sangat cepat, namun sejauh mana kemajuan di lapangan dalam memahami perilaku kesehatan tetap menimbulkan pertanyaan. Isu ini menjadi bahasan dalam artikel. Pertama, kita melakukan kajian pustaka tentang Teori Perilaku Kesehatan (HBT). Kedua, kita membahas proliferasi HBT dan mengapa perbandingan teori adalah ranah yang penting dalam kajian ini. Kita perlu merefleksikan cara-cara yang mungkinkan agar bidang ini bergerak maju dengan menyarankan agenda baru untuk kajian HBT. Alasanya adalah meningkatnya pengakuan terhadap konstruksi kesamaan perilaku kesehatan serta teori perbandingan empiris sangat penting untuk kemajuan ilmiah di bidang ini.
Oleh : M. Suharni
Satu Desember di peringati sebagai hari AIDS sedunia. Tema peringatan HAS 2015 di Indonesia adalah Perilaku Sehat. Momen hari AIDS ini menarik untuk membahas upaya penanggulangan HIV dan AIDS dalam rangka ending AIDS 2030 dan berefleksi apa yang sudah dilakukan untuk mencapainya. Sudah banyak upaya penanggulangan yang dilakukan oleh banyak pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah dengan berbagai kebijakan dan program, masyarakat sipil, sektor swasta dan berbagai upaya yang dilakukan oleh mitra pembangunan internasional.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia