Oleh: Hersumpana

Ilustrasi | bookmasters.comKeberhasilan dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS ditentukan oleh kemampuan merespon situasi epidemi yang berkembang berserta penghitungan kebutuhan-kebutuhan intervensi program yang sesuai dengan beban penyakit yang harus ditanggung. Pasalnya, dalam kenyataan mendapatkan gambaran yang mendekati kebenaran suatu epidemi membutuhkan metodologi yang kuat (robust) untuk dapat memerhitungkan beban penyakit yang harus ditangani pada populasi tertentu (populasi kunci). Tulisan ini menganalisis pentingnya pemahaman tentang kemampuan mengembangkan pendekatan/metode untuk mengukur situasi epidemi dengan kebutuhan intervensi program pada populasi kunci untuk pengembangan perencanaan strategis  yang berbasis data[1](data driven planning) untuk populasi kunci sebagai kelompok yang sulit dijangkau.

Oleh:  Abu S. Abdul-Quader, Andrew L. Baughman, and Wolfgang Hladik

Research GateTujuan Review

Estimasi besaran populasi kunci penting untuk advokasi, perencanaan program, dan monitoring epidemi HIV dalam populasi  tersebut.  Sebuah review publikasi terkini estimasi besaran populasi  diantara populasi kunci meliputi LSL, penasun, dan pekerja seks perempuan dan lelaki, yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan menilai praktik-praktik terbaru pada tingkat global.

UNAIDSStigma dan diskriminasi menjadi  hambatan utama untuk pencegahan HIV, pengobatan, perawatan dan dukungan. Secara khusus, penelitian telah menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi merusak upaya pencegahan HIV dengan membuat orang takut untuk mencari informasi HIV, layanan dan modalitas yang dapat membantu mengurangi risiko infeksi dan mengadopsi perilaku yang lebih aman untuk mengurangi  kecurigaan terhadap status HIV mereka.  Penelitian juga menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi, dapat dihubungkan dengan ketakutan akan terjadinya kekerasan, mengecilkan hati ODHA untuk mengungkapkan status mereka bahkan kepada anggota keluarga dan pasangan seksual, hal ini juga  melemahkan kemampuan dan kemauan mereka untuk mengakses pengobatan serta mempengaruhi terhadap kepatuhan berobat.  Dengan demikian, stigma dan diskriminasi melemahkan kemampuan individu dan masyarakat untuk melindungi diri dari HIV dan agar dapat tetap hidup sehat dengan status HIV nya.

Oleh: Eviana Hapsari Dewi

Health Promotion Emblem | The Ottawa Charter for Health Promotion, 1986Dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS menciptakan kebijakan AIDS yang berwawasan kesehatan (healthy AIDS policy) merupakan sebuah keharusan karena kebijakan AIDS selama ini belum sepenuhnya mencerminkan prinsip sebuah kebijakan yang berwawasan kesehatan yang tampak dalam upaya untuk (1) menciptakan lingkungan yang mendukung untuk kesehatan, (2) penguatan aksi komunitas untuk kesehatan, (3) pengembangan kemampuan personal, dan (4) reorientasi layanan kesehatan[1] Mengacu definisi dari WHO, kebijakan AIDS sebagai sebuah kebijakan publik yang berwawasan kesehatan seharusnya mampu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi seseorang atau masyarakat tertentu yang terdampak oleh AIDS baik langsung maupun tidak langsung.[2] Hal ini dipertegas kembali dalam konferensi internasional promosi kesehatan yang kedua di Adelaide pada tahun 1988, bahwa kebijakan publik yang berwawasan kesehatan itu mempunyai karakteristik yang khas, yaitu secara eksplisit memberi perhatian penuh pada isu kesehatan dan pemerataan yang berkeadilan (equity) dalam semua aspek, dan dengan prinsip akuntabilitas melihat dampaknya bagi kesehatan.[3] Dengan demikian, tujuan utama dari kebijakan publik yang berwawasan kesehatan ini adalah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, yang memungkinkan seseorang atau masyarakat tertentu menuju pada sebuah kehidupan yang lebih sehat.

Oleh: Ita Perwira

Fast track unaidsMasih dalam bulan Desember dimana pada awal bulan kemarin kita memperingati hari AIDS sedunia dan gerakan global dicanangkan untuk fast track AIDS response. Untuk mencapai target 90-90-90 pada tahun 2020 dibutuhkan komitmen semua pihak untuk mengakhiri epidemi AIDS yang juga menjadi bagian Sustainable Development Goals. Untuk membantu masing-masing negara mencapai target ini, WHO telah mengembangkan panduan konsolidasi informasi strategis untuk HIV dalam sektor kesehatan yang telah di rilis pertengahan tahun kemarin (bulan Mei 2015).

Panduan yang disusun oleh WHO bertujuan untuk membantu negara-negara dalam melakukan konsolidasi dan memastikan bahwa semua indikator global yang menjadi target menjadi prioritas dan mencapai hasil yang maksimal. Panduan ini juga diharapkan dapat membantu staf sektor kesehatan nasional dalam memilih mengumpulkan dan menganalisa secara sistematik informasi strategis untuk membantu sektor kesehatan dalam melaksanakan penanggulangan HIV dan AIDS.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID