Oleh : Hersumpana, Ig.

Ilustrasi | Kebijakan AIDS IndonesiaUpaya meningkatkan penjangkauan pada populasi dan kelompok yang tersembunyi dan sulit didekati membutuhkan strategi pendekatan yang tepat dan kebijakan yang memihak. Kunci keberhasilan dalam pencegahan penularan HIV yang diyakini adalah kemampuan mengembangkan strategi dan kebijakan untuk melakukan penjangkauan kepada populasi kunci (Most At Risk Population). Kebijakan layanan pencegahan dan layanan HIV  yang memberikan prioritas kepada populasi kunci selama ini dipandang sebagai strategi dan langkah yang tepat dalam penurunan angka penularan HIV yang lebih luas. Penanganan sumber penularan secara proporsional dapat membantu lebih efektif upaya penanggulangan AIDS di berbagai negara. Setiap negara memiliki dinamika perkembangan dan karakteristik penularan epidemi HIV dan AIDS yang berbeda. Sebagian besar Asia dan Asia Tenggara, penularan HIV dan AIDS disebabkan oleh perilaku resiko yang kompleks, meliputi penularan melalui transmisi seksual oleh pekerja seks (WPS),  lelaki yang seks dengan  lelaki,  kelompok transgender dan penasun[1]. Tulisan ini mencoba mencermati strategi dan kebijakan untuk layanan HIV bagi kelompok tersembunyi dan rentan.

Oleh:  Chris Breyrer, MD, MPH, et al.

Abstrak

Ilustrasi | blogabooketc.comPenyediaan layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV pada kelompok populasi kunci memberikan banyak tantangan bagi sistem layanan kesehatan. Bagi kelompok pekerja seks (WPS) , pengguna napza suntik (penasun) dan  Lelaki  yang seks dengan lelaki (LSL), stigma, diskriminasi dan kriminalisasi dapat membatasi akses terhadap layanan, menghambat pemberian layanan, dan mereduksi pemaparan resiko. Beberapa model penyediaan layanan HIV kepada populasi kunci mengenai isu tersebut.  Tulisan ini mendiskusikan model-model integrasi, layanan yang berdiri sendiri, dan model hibrid yang bisa tepat untuk beberapa populasi kunci pada konteks tertentu. Baik kerangka kesehatan masyarakat dan hak asasi bersama menyatakan bahwa mereka yang memiliki resiko tertinggi semestinya diperluas aksesnya untuk mendapatkan layanan.

Oleh: Eviana Hapsari Dewi

Keterlibatan Bermakna ODHA dalam Penanggulangan AIDSDalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS penting untuk melibatkan berbagai pihak, termasuk orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) karena HIV merupakan penyakit menular kronis yang memiliki dimensi sosial, politik dan ideologi. Satu prinsip mengenai keterlibatan ini adalah GIPA (Greater Involvement of People Living with or Affected by HIV/AIDS), yang kemudian berevolusi menjadi MIPA (Meaningful Involvement of People Living with or Affected by HIV/AIDS). GIPA merupakan suatu prinsip yang bertujuan untuk mendorong pemenuhan hak ODHA, termasuk hak mereka untuk menyatakan diri dan berpartisipasi dalam proses-proses pembuatan keputusan yang akan berdampak pada kehidupannya. Selain itu, GIPA juga bertujuan untuk memastikan kualitas dan efektifitas respons AIDS[i]. GIPA dideklarasikan pertama kali dalam Konferensi AIDS Tingkat Tinggi di Paris pada tahun 1994. Hal ini menunjukkan komitmen dan posisi dari 42 negara yang hadir dalam konferensi tersebut atas respons mereka terhadap epidemi HIV dan AIDS[ii].

GNP+Dua dokumen yang saling melengkapi ini secara khusus membahas mengenai definisi, prinsip dan strategi untuk merealisasikan prinsip tersebut. Buku yang berjudul Good Practice Guide : Greater involvement of people living with HIV mengulas mengenai informasi, strategi dan sumber daya yang diperlukan untuk membantu para praktisi dalam menentukan standar praktek yang baik dan cara-cara yang diperlukan untuk mentranslasikan prinsip GIPA ke dalam praktek di tingkat program respons HIV dan AIDS.

Pamina M. Gorbach and King K. Holmes

NCBI JournalModel matematis untuk penularan IMS dan HIV telah memperoleh perhatian yang sangat besar dalam penelitian HIV dengan memberikan perhatian penting pada tipe-tipe pasangan seksual sehingga telah membantu untuk memahami bagaimana proses penularan HIV dan IMS terjadi. Meski demikian bagaimana aspek-aspek hubungan antar pasangan seksual, jenis pasangan seksual, dinamika interaksi seksual tersebut terkait dengan penularan HIV belum banyak diketahui.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID