Metrotvnews.com, Surabaya: Puluhan bakal calon kepala daerah dari 11 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menjalani tes kesehatan di RSUD dr Soetomo, Surabaya. Tes kesehatan itu dilakukan sebagai salah satu syarat pencalonan mereka sebagai kepala daerah. Mereka dinyatakan gagal apabila positif narkoba dan HIV/AIDS.
Pelaksana tugas Direktur RSUD dr Soetomo, dr Harsono, menjelaskan beberapa kondisi yang bisa menggagalkan pencalonan. "Dua di antaranya, adalah terbukti narkoba dan terbukti HIV/AIDS," kata Harsono, di Surabaya, Selasa (28/7/2015).
Dia menegaskan pemeriksaan kesehatan ini untuk menjamin para calon pemimpin daerah tidak memiliki kondisi kesehatan yang buruk sehingga mengganggu kinerjanya.
Oleh: Ita Perwira
Feminisasi pada HIV/AIDS dianggap sebagai konsep yang lebih baru dibanding konsep feminisasi pada kemiskinan[1]. Tulisan Kang’ethe mencoba melihat permasalahan gender dalam penanggulangan HIV/AIDS dan hubungannya dengan pencapaian MDGs khususnya di Botswana dan South Africa, dan disini kita juga akan mencoba melihatnya dari kondisi di Indonesia yang mungkin akan sedikit berbeda.
Data global menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang terinfeksi HIV dan AIDS lebih tinggi dibanding jumlah laki-laki yang terinfeksi[2]. Data yang sama juga ditunjukkan di Botswana dan Afrika selatan, sementara untuk data di Indonesia menurut laporan Kemenkes, jumlah kasus terinfeksi HIV/AIDS selalu lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan, namun bila dilihat jumlah proporsinya setiap tahun proporsi perempuan yang terinfeksi semakin meningkat dibanding laki-laki [3].
Abstrak Tulisan ini, melalui tinjauan literature bertujuan untuk mengeksplorasi hal-hal yang mendasari feminisasi terhadap HIV/AIDS dan hubungannya dengan Millennium Development Goals (MDGS). Beberpa temuan mengindikasikan bahwa lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki yang terinfeksi oleh HIV/AIDS; feminisasi terhadap kemiskinan sebagian besar menginformasikan feminisasi terhadap HIV/AIDS; adanya mitos di masyarakat yang menganggap bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang dimiliki wanita; dan perawatan penyakit umumnya hanya dilakukan oleh para wanita saja. Penelitian ini memberikan saran-saran strategis untuk memperbaiki feminisasi dari HIV/AIDS: membentuk sector khusus untuk laki-laki untuk dapat memobilisasi para lelaki untuk mempercepat respon; usaha untuk mengurangi dampak budaya partiarki; dan mengemukakan pertukaran gender (gender swap), penyesuaian (readjustment) gender dan meluruskan kembali (realignment) gender.
Oleh : Chrysant Lily
Dalam jurnal AIDS Care pada edisi yang berfokus pada tema mobilisasi komunitas, Campbell dan Cornish (2010)[1] memetakan tiga pendekatan utama yang telah berjalan dalam penanggulangan HIV dan AIDS khususnya yang menyasar pada perubahan perilaku. Pendekatan pertama adalah peningkatan kesadaran tentang HIV yang menekankan pada individu sebagai agen perubahan. Pendekatan ini menggunakan asumsi tradisional bahwa orang melakukan perilaku beresiko karena ketidaktahuan dan sebaliknya akan membuat pilihan yang rasional (yaitu merubah perilaku beresikonya) apabila memiliki informasi yang benar. Akan tetapi berbagai studi menunjukkan bahwa pendekatan berbasis individu ini seringkali membawa hasil yang mengecewakan, sebab akses terhadap informasi hanyalah sebagian penentu dari perubahan perilaku.
Oleh : Ign. Hersumpana
Kemampuan mengembangkan respon AIDS di tingkat daerah tergantung dengan kapasitas daerah membangun sistem informasi AIDS yang berkualitas. Permasalahannya, bagaimana standarisasi dan indikator database HIV dan AIDS dikembangkan sebagai basis untuk mengembangkan respon AIDS dan penyusunan kebijakan strategis berbasis bukti? Berbicara data AIDS, sejauh ini Indonesia sudah memiliki data-data yang relatif cukup banyak yang menggambarkan situasi AIDS pada tingkat nasional yang dihasilkan oleh berbagai survei-survei yang dilakukan secara rutin dan sistematis sejak tahun 2002 yang dilakukan per 2 tahun seperti Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP/IBBS) yang didukung oleh Mitra Pembangunan Internasional. Permasalahannya adalah sejauhmana data-data tersebut digunakan oleh pemerintah daerah untuk mengembangkan perencanaan strategis AIDS? apakah data-data tersebut sesuai dan memenuhi kebutuhan AIDS di daerah? Bagaimana dengan kemampuan daerah mengembangkan survei untuk memotret situasi epidemi daerah, apakah metode dan mekanisme survei yang digunakan memenuhi standar?
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia