Campbell and Cornish, 2010, AIDS Care, vol. 22 no. supplement 2, pp. 1569-79.
Sudah ada sekian banyak program pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan HIV dan AIDS yang hasilnya mengecewakan akibat kurangnya mobilisasi komunitas yang efektif. Tetapi mobilisasi komunitas memang tidak mudah untuk diwujudkan. Oleh karena itu, tulisan ini menyajikan kerangka konseptual yang memetakan dimensi-dimensi konteks sosial yang berpotensi mendukung atau menghambat upaya mobilisasi komunitas – yaitu dimensi material, simbolis dan relasional. Tulisan ini dimulai dengan penjelasan mengapa mobilisasi komunitas dianggap sebagai bagian penting dalam pengelolaan program HIV dan AIDS yang efektif: yaitu karena mobilisasi komunitas meningkatkan cakupan dan keberlanjutan program, membantu mengisi kebutuhan perawatan di tengah-tengah terbatasnya sumber daya tenaga kesehatan, dan yang terpenting memfasilitasi proses kemandirian yang merupakan syarat penting bagi efektifnya upaya pencegahan, perawatan, dukungan dan pegobatan. Selanjutnya tulisan ini memetakan tiga generasi pendekatan terhadap program perubahan perilaku dalam lingkup HIV dan AIDS: kesadaran individu tentang HIV, pendidikan sebaya dan mobilisasi komunitas.
Gruskin, S., Ahmed, S., and Ferguson, L. 2008.
Abstrak
Sejak diperkenalkannya obat-obatan untuk mencegah transmisi HIV vertikal dari ibu ke anak, tujuan dan pendekatan tes HIV terhadap ibu-ibu hamil semakin menjadi kontroversi. Di tahun-tahun belakangan ini, salah satu strategi yang dilakukan untuk meningkatkan jumlah tes HIV adalah dengan menawarkan tes HIV kepada perempuan sebagai bagian dari layanan kehamilan dan persalinan. Panduan baru yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) dan Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) secara khusus mencatat layanan-layanan ini sebagai titik masuk dari pendekatan Provider-Initiated HIV Testing and Counseling (PITC). Panduan ini memberikan langkah awal yang baik menuju dilaksanakannya PITC yang peka terhadap hak kesehatan, hak asasi dan etika terhadap ibu-ibu hamil yang ada di fasilitas kesehatan.
Oleh : Chrysant Lily
Pada bulan Juli 2015, WHO mengeluarkan sebuah pedoman global yang baru untuk layanan tes HIV. Pedoman ini kembali menegaskan bahwa Provider Initiated Testing and Counseling (PITC) merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan cakupan layanan tes HIV dan menghubungkan klien ke layanan lanjutan. PITC juga dikenal sebagai ‘tes rutin’ atau ‘tes konseling HIV terintegrasi di sarana kesehatan’ dimana berbeda dengan pendekatan tes HIV yang diprakarsai oleh klien, dalam PITC tes HIV ditawarkan oleh petugas di fasilitas layanan kesehatan secara rutin. Dengan pendekatan ini hambatan-hambatan yang ada dalam tes HIV yang diprakarsai oleh klien bisa diperkecil, antara lain karena klien bisa mendapatkan tes HIV sambil mengakses layanan kesehatan lainnya serta tes HIV bisa dilaksanakan tanpa harus bergantung pada motivasi klien untuk mencari tes HIV. Tes HIV bisa lebih dikondisikan sebagai sesuatu yang normal dan sifatnya rutin, sehingga diagnosa lebih dini bisa didapatkan oleh mereka yang mengakses layanan di fasilitas kesehatan.
Oleh : Zunyou Wu et al.
Terdapat empat faktor mempengaruhi respon China terhadap pandemi HIV dan AIDS: 1) Struktur pemerintahan dan jaringan hubungan yang ada, 2) Informasi Ilmiah yang meningkat, 3) pengaruh ekternal yang menggarisbawahi konsekuensi potensial dari pandemi HIV dan AIDS dan dengan demikian mempercepat perencanaan strategis, 4) komitmen politik yang meningkat pada level tertinggi. Respon China memuncak pada pembuatan undang-undang untuk mengontrol HIV dan AIDS – Pengaturan Pencegahan AIDS dan kontrol. Ada tiga inisiatif utama ditingkatkan secara bersamaan. Pertama, pemerintah memprioritaskan intervensi untuk mengontrol epidemi pada penasun, Pekerja Seks, LSL, dan donor darah. Kedua, tes HIV rutin dilakukan pada populasi resiko tinggi. Ketiga, pemerintah menyediakan perawatan untuk individu yang terinfeksi HIV. Program yang berani ini muncul dari proses dialog dan kolaborasi panjang antara pegawai-pegawai pada setiap tingkat pemerintah, peneliti, penyedia layanan, pengambil kebijakan dan berujung pada aksi yang menentukan.
Oleh: M.Suharni
Ada kesenjangan antara produk regulasi penanggulangan AIDS dengan implementasinya di lapangan. Secara normatif upaya penanggulangan AIDS di Indonesia sudah memiliki banyak kebijakan baik di tingkat pusat maupun di daerah, menurut KPAN terdapat sekitar 247 kebijakan sampai dengan tahun 2014. Akan tetapi keberadaan Kebijakan AIDS belum mampu menurunkan epidemi AIDS, Indonesia merupakan penyumbang 23 % infeksi baru di Asia Pasifik, hanya kalah dari India yang menyumbang 38 % seperti dilansir oleh laporan UNAIDS[1]Tulisan ini menawarkan bagaimana langkah yang harus dilakukan oleh para pemangku kepentingan kunci agar regulasi yang ada dapat lebih efektif dilaksanakan untuk mencegah peningkatan epidemi AIDS.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia