Oleh: Hersumpana Ign
Pembiayaan yang berkelanjutan bagi sektor komunitas dalam penanggulangan AIDS perlu pemikiran yang komprehensif dan perencanaan strategis. Peran sektor komunitas dipandang memiliki kontribusi penting dalam penanggulangan AIDS karena kapasitasnya dalam melakukan layanan yang lebih fleksibel berbasiskan nilai-nilai solidaritas yang menjangkau kelompok-kelompok terpinggirkan oleh stigma sosial dan diskriminasi, akan tetapi pembiayaan sektor komunitas selama ini masih menggantungkan sepenuhnya pada dukungan dari Mitra Pembangunan Internasional (MPI) seperti hasil temuan penelitian Sektor Komunitas PKMK UGM (2015)[1]. Pemberdayaan sektor komunitas menjadi salah satu prioritas dalam SRAN 2015-2019[2] dalam penanggulangan AIDS yang komprehensif dan berkelanjutan. Tulisan ini mencoba menggali gagasan kemungkinan potensi pembiayaan yang bersumber dari pendanaan lokal yang berkelanjutan untuk sektor komunitas.
Bernard Schwartlander et al.
Perubahan subtansial dibutuhkan untuk mencapai pendekatan yang lebih strategis dan menyentuh sasaran untuk investasi respon epidemi HIV dan AIDS yang akan menghasilkan keuntungan jangka panjang. Hingga sekarang, advokasi sumber daya telah dilakukan atas dasar pendekatan komoditas yang mendorong peningkatan sejumlah strategi secara paralel dari dampak relatif masing-masing. Para peneliti mengajukan sebuah kerangka investasi strategi investasi yang diharapkan untuk mendukung menejemen respon HIV dan AIDS nasional dan internasional yang lebih baik dibandingkan dengan sistem yang ada sekarang. Kerangka tersebut menyatukan pencapaian efisien utama melaluimobilitas komunitas, sinergi antara komponen program dan keuntungan dari perluasan terapi ARV untuk pencegahan penularan HIV.
Oleh: Hersumpana, Ig.
Pelibatan tenaga pendamping non kesehatan dalam layanan AIDS menjadi penting untuk dikembangkan dari konsep ‘tenaga kerja multiplier” untuk pemenuhan sumber daya kesehatan seperti disampaikan dalam SRAN 2015-2019[1]. Kenapa perlu melibatkan lebih banyak tenaga kerja dari komponen non kesehatan? Ada banyak faktor yang menjadi alasan mengapa pelibatan tenaga kerja multiplier menjadi krusial dalam upaya penanggulangan AIDS ke depan yang berbasis pada layanan kesehatan sampai pada tingkat fasilitas kesehatan primer. Hal tersebut merupakan konsekwensi dari kebijakan strategis LKB dan SUFA membutuhkan sumber daya yang cukup baik pada sektor kesehatan maupun non kesehatan sebagai pendukung pokok dalam upaya penanggulangan AIDS (VCT link to Care).
Oleh : Swasti Sempulur
Beberapa kajian dokumen menunjukkan bahwa sektor komunitas memiliki peran yang cukup strategis dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Pengalaman menunjukkan bahwa upaya promotive preventive cenderung banyak dilakukan oleh sektor komunitas dalam hal ini CSO/CBO. Partisipasi masyarakat merupakan aspek yang potensial untuk menunjang penanggulangan HIV/AIDS, Oleh karena itu, sangat penting pemerintah melakukan tindakan guna meningkatkan, memperbaiki dan partisipasi kesadaran masyarakat. Tindakan yang dapat dilakukan berupa penyebaran informasi, membuat program yang berhubungan dengan penanggulangan HIV/AIDS, peningkatan kapasitas bagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat (Misalnya : Lembaga Pemberdayaan Masyarakat yang ada di tingkat kelurahan) untuk memberikan informasi yang tepat tentang HIV/AIDS pada warga. Kegiatan seperti ini perlu dilakukan guna mencegah infeksi baru pada masyarakat luas serta menurunkan stigma dan diskriminasi pada ODHA[1].
Maryse C Kok, et al.
Abstrak
Latar Belakang:
Pekerja Kesehatan Komunitas (CHWs) semakin dikenal sebagai sebuah komponen intergral dari angkatan kerja kesehatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan kesehatan publik di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Banyak faktor-faktor yang saling berkelindan mempengaruhi kinerja Pekerja Kesehatan Komunitas. Sebuah review sistematis dengan melakukan analisis naratif untuk mengidentifikasi faktor-faktor kontekstual yang mempengaruhi kinerja Pekerja Kesehatan Komunitas.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia