Oleh: Chrysant Lily Kusumowardoyo
Pendidikan sudah lama diakui sebagai salah satu jalan untuk mencegah penyebaran HIV dan AIDS, sehingga sering disebut sebagai ‘vaksin sosial’ dalam respon HIV. Lewat pendidikan, masyarakat bisa memiliki pengetahuan tentang bagaimana mencegah dan melindungi diri dari infeksi HIV. Pengajaran tentang isu HIV lewat sekolah- sekolah juga memungkinkan penjangkauan dalam skala besar kepada populasi umum yaitu para siswa dan kaum muda, yang di Indonesia merupakan kelompok usia yang paling beresiko. Pendidikan berbasis sekolah juga sangat potensial sebab ia memungkinkan siswa, guru, orang tua, dan masyarakat untuk terlibat bersama-sama dalam pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Ini menjadi penting sebab HIV dan AIDS sudah bukan sekedar merupakan masalah kesehatan saja, tetapi sudah menjadi masalah multi-dimensi yang membutuhkan penanganan yang melibatkan semua anggota masyarakat.
Oleh: Hermanto 03/01/2015
Banjar, (harapanrakyat.com), - Sekitar 700 anggota organisasi masyarakat (ormas) Gerakan Elemen Penerus Reformasi (Gempur ), Sabtu siang tadi (03/01/2015), sekitar jam 13.00 WIB, menggelar kegiatan donor darah, tes HIV/VCT, dan hiburan musik dangdut, bertempat di kawasan Pasar Langkaplancar, Kel. Bojongkantong, Kec. Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat.
Ketua ormas Gempur, Hunes Hermawan, mengatakan, kegiatan tersebut digelar dalam rangka perayaan hari ulang tahun ormas tersebut yang ke-7, terhitung sejak didirikan pada tanggal 30 Desember 2007.
Bakti sosial tersebut merupakan kegiatan rutin yang selalu dilakukan setiap tahun. Menurut Hunes, hal itu sudah menjadi kewajiban sebagai manusia untuk saling membantu.
Jumat, 02 Januari 2015
LAHAT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lahat bergerilya mendeteksi keberadaan penderita penyakit HIV/AIDS. Meski sampai saat ini belum ditemukan positif AIDS di Lahat, bukan tidak mungkin penyakit yang disebabkan human immunodeficiency virus masuk ke wilayah Kabupaten Lahat. Apalagi beberapa tempat di Kabupaten Lahat dikhawatirkan dapat menjadi lokasi penularan.Selasa, 30 Desember 2014
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Teuku Muh Guci S
CIANJUR, TRIBUN - Ketua Pelaksana KPA Kabupaten Cianjur, Suranto, mengakui, belum optimalnya penanggulangan HIV/Aids di Kabupaten Cianjur akibat keterbatasan dana. Pada 2014 saja, KPA Kabupaten Cianjur hanya memiliki anggaran sebesar Rp 50 juta untuk melakukan kegiatan dan sosialisasi.
"Kami memang anggarannya minim tahun, padahal penyakitnya begitu berkembang setiap tahunnya. Kami sendiri sudah menjelaskan kepada pengambil kebijakan di pemerintah Kanupaten Cianjur dan kita sudah berupaya, ya tapi seperti itu," kata Suranto di kantor bupati, Jalan Siti Jenab, Kecamatan Cianjur, Selasa (30/12).
Jumlah kasus HIV/Aids di Kabupaten Cianjur pada 2014 meningkat 100 persen ketimbang jumlah kasus pada 2013 yang jumlahnya sebanyak 54 kasus. Pada 2014 ini jumlah kasusnya ada 98 orang dan itu baru jumlah sampai November 2014.
Selasa, 30 Desember 2014
JAKARTA (Pos Kota) - Penelitian menjadi kunci penting untuk pengembangan dan pembangunan kesehatan. Karena atas dasar hasil penelitian yang akurat menurut Menkes Prof Nila Moeloek maka kebijakan pembangunan kesehatan yang dilakukan pemerintah akan jauh lebih tepat dan cepat.
“Kita punya banyak hasil penelitian dibidang kesehatan yang sifatnya memang menjadi penelitian unggulan. Alangkah bagusnya jika dimanfaatkan dengan maksimal,” jelas Nila disela parade penelitian kesehatan 2014 bertema mewujudkan akuntabilitas kinerja Balitbangkes.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia