Oleh : Hersumpana[1].

Ilustrasi | afritorial.comPengetahuan Komprehensif AIDS merupakan indikator penting dalam upaya penaggulangan AIDS yang berguna untuk pengembangan kebijakan dan program yang tepat. Pengetahuan dalam tulisan ini dipahami sebagai sebuah informasi komprehensif terkait dengan pemahaman HIV/AIDS berdasarkan 5 pertanyaan kunci yang selama ini menjadi pertanyaan standard survey terpadu biologis dan perilaku[2]. Selama ini, pengetahuan tentang AIDS diperoleh melalui pendidikan yang dikembangkan oleh Kemenkes melalui dinas kesehatan dan nakes maupun pendidikan yang dilakukan oleh berbagai kelompok swadaya masyarakat, kelompok penjangkau, kader kesehatan dan Kelompok dukungan sebaya. Sasaran program pendidikan AIDS masih fokus pada kelompok populasi kunci atau kelompok resiko tinggi seperti WPS, Waria, LSL, HRM (high risk man). Banyak program dikembangkan fokus pada kelompok populasi kunci. Jika mencermati data pengetahuan komprehensif dari data IBBS pada kelompok berisiko dari kita mendapatkan gambaran bahwa tingkat pengetahuan yang dimiliki ternyata tidak berbanding lurus dengan perilaku. Seperti data IBBS tahun 2013 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan kelompok populasi kunci pada penasun dan kelompok LSL cukup tinggi mencapai 41 % 2013 dibanding tahun 2009. Namun demikian prevalensi AIDS-nya tidak banyak mengalami perubahan bahkan semakin meningkat. Pertanyaannya bagaimana pendidikan untuk masyarakat umum yang selama ini terabaikan?

JPNN, 19 Desember 2014

BEIJING - Kun Kun hanya memandang pasrah ketika penduduk Desa Xichong, Provinsi Sichuan, Tiongkok, menandatangani petisi pengusiran dirinya Rabu (17/12). Bocah delapan tahun yang tidak disebutkan nama aslinya itu akan diusir dari desa oleh penduduk karena menderita HIV/AIDS. Mereka takut tertular. Kakek yang selama ini menjaganya juga ikut-ikutan memberikan persetujuan di petisi tersebut.

"Kami tidak lagi bisa merawatnya. Bahkan, orang tuanya tidak peduli kepadanya," ujar Luo Sheng (69), kakek yang selama ini merawatnya.

Dua ratus penduduk setuju untuk mengusir Kun Kun. Dalam petisi tersebut, Kun Kun bahkan diibaratkan sebagai bom waktu. Kun Kun tertular HIV saat dikandung ibunya. Namun, penyakit itu baru terdeteksi saat dia berusia lima tahun. Ibunya pergi pada 2006, setelah melahirkannya. Sejak didiagnosis menderita HIV/AIDS, Kun Kun tidak memiliki teman dan ditolak masuk ke sekolah-sekolah lokal.

Skala News, 19 Desember 2014

IlustrasiSkalanews - Penderita "human immunodeficiency virus"/"acquired immuno deficiency syndrome" atau HIV/AIDS di Kabupaten Lebak, Banten, mayoritas berusia produktif sehingga perlu pencegahan mulai dari keluarga hingga lingkungan.

"Kami terus berupaya agar penyebaran penyakit HIV/AIDS dapat ditekan semaksimal mungkin melalui penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat," kata Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak dr Firman Rahmatullah saat dihubungi di Lebak, Kamis.

Ia mengatakan penderita terkena HIV/AIDS itu akibat jarum suntik, narkoba, danjuga hubungan seks bebas.

Ia mengatakan kebanyakan mereka penderita berusia produktif sehingga menjadikan ancaman terhadap generasi penerus.

Sumatera Ekspres, 19 Desember 2014

PANGKALAN BALAI - Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banyuasin, terdapat sekitar 46 orang penderita penyakit HIV dan AIDS di wilayahnya.

"Terdapat sekitar 46 orang yang terjangkit HIV dan AIDS yang tersebar di wilayah Kabupaten Banyuasin, dengan jumlah tersebut Banyuasin menduduki peringkat kedua di bawah di Kota Palembang yang menduduki peringkat pertama," kata Hj Hafinalty Amiruddin Ineod, ketua dewan pembina PMI Banyuasin usai membuka seminar HIV dan AIDS di Auditorium Pemkab Banyuasin, Jumat (19/12).

CNN Indonesia, 19 Desember 2014

UNAIDS memperkirakan terdapat sekitar 76 ribu warga yang hidup dengan HIV di Kamboja. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)Phnom Penh, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, menyerukan penyelidikan di desa Rokar, sebuah desa terpencil di provinsi Battambang, karena lebih 100 warga desa tersebut diduga terserang virus HIV.

Otoritas AIDS Nasional dan Phnom Penh Post menyatakan terdappat 106 kasus HIV ditemukan di desa Rokar, dan diduga pemakaian jarum suntik dari seorang dokter yang tidak berlisensi menjadi penyebabnya.

Seperti dilaporkan Phnom Penh Post, penduduk desa menuduh seorang dokter setempat yang diduga membuka prakter tanpa izin dan menggunakan jarum terkontaminasi. Saat ini, sang dokter tertuduh tersebut telah diamankan pihak kepolisian setempat.

Ketika laporan penyebaran virus ini terkuak pada pekan lalu, sekitar 800 warga desa panik dan berbondong-bondong mendatangi pusat kesehatan setempat untuk menjalani tes HIV.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID