JPNN, 3 September 2014

PALANGKARAYA – Meningkatnya jumlah penderita reaktif HIV/AIDS di Palangkaraya, disinyalir bukan berasal dari tempat lokalisasi saja. Melainkan terindikasi di tempat-tempat terselubung seperti salon pijat, kecantikan, dan warung remang-remang.

Kendati penderita reaktif HIV/AIDS belum bisa memastikan yang bersangkutan benar-benar positif terserang virus HIV, namun berdasarkan ilmu kedokteran reaktif diyakini menjurus hingga 90 ke arah positif. Sudah barang tentu melalui tes di laboratorium.

Oleh: Muhammad Suharni; Editor: Iko Safika

Prof. Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc., Ph.D.Prof. Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc, Ph.D[1] merupakan salah satu pembicara dalam workshop analisis penelitian “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional”, kerjasama Pusat Kebijakan dan Managemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PKMK-UGM) dan Department Foreign Affairs and Trade (DFAT), pemerintah Australia. Prof. Wiku berbagi pengalaman penelitian yang melihat sejauh mana integrasi program Global Fund TB, Malaria dan HIV kedalam Nasional program dan sistem kesehatan. Diskusi bersama Prof. Wiku diharapkan membantu para peneliti dari 9 universitas yang terlibat dalam penelitian ini dengan menguatkan pemahaman tentang konsep integrasi dan cara pengukurannya.

Oleh: Hersumpana Ignatius; Editor: Iko Safika

Ilustrasi | petsmart.comPenelitian “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional”, kerjasama Pusat Kebijakan dan Managemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PKMK-UGM) dan Department Foreign Affairs and Trade (DFAT), pemerintah Australia telah memasuki tahap analisa data. Workshop analisis data yang dihadiri oleh peneliti PKMK-UGM dan ke-9 peneliti universitas yang terlibat telah dilakukan di Yogyakarta tanggal 25-28 Agustus yang lalu. Pada sesi terakhir, dibahas pengertian konsep integrasi dan bagaimana mengukur tingkat integrasi. Pengertian integrasi secara konseptual memiliki banyak definisi. Merujuk kajian pustaka yang dilakukan oleh Shigayeva, et al[1], istilah integrasi dipahami secara luas dan variatif, yang dapat terdiri dari integrated care[2], Integrated health services[3], disease management [4], coordinated care[5], dan continuum of care[6]. Sementara Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menggunakan istilah Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) bagi upaya penanggulangan HIV dan IMS[7]. Adapun konsep yang digunakan dalam penelitian ini lebih merujuk pada konsep integrasi yang digunakan Shigayeva et al. dengan melihat integrasi baik secara struktural maupun fungsional dari sebuah sistem. Dalam konteks kerangka sistem kesehatan, integrasi dipandang sebagai langkah positif yang bertujuan mengurangi fragmentasi dan duplikasi layanan, memperbaiki hasil layanan dan kepuasan yang lebih baik, menawarkan manfaat yang lebih besar, serta memperbaiki kinerja sistem kesehatan, program-program dan layanannya.

Alexandra Conseil,[1]* Sandra Mounier-Jack1[2] and Richard Coker[3]

Bendera Vietnam | spiceworks.comHasil kajian tulisan Alexandra conseil dkk. Tentang integrasi sistem kesehatan atas dua program prioritas intervensi, HIV/AIDS dan TB di Vietnam, ke dalam 6 fungsi sistem kesehatan yang lebih luas menujukkan bahwa tidak satupun dari ke enam fungsi program terintegrasi secara penuh ke dalam sistem layanan kesehatan umum secara keseluruhan. Tingkat Integrasinya masih bersifat paralel pada tingkat struktural yang lebih tinggi atau terintegrasi sebagian saja. Temuan lain dari kajian ini juga menunjukkan bahwa terdapat integrasi yang kecil antar semua lintas tingkatan fungsi diantara program HIV/AIDS dan TB. Secara umum didapatkan gambaran bahwa antara lembaga internasional dengan stakeholder lokal masih masih bersifat vertikal dan pendekatannya kurang terintegrasi. Absennya asumsi dan tujuan bersama, polarisasi pandangan bisa berakibat kurang maksimalnya efisiensi dan efektifitas intervensi program HIV/AIDS dan TB di Vietnam.

the Jakarta Post, 31 August 2014

The Mimika chapter of the National AIDS Commission (KPA) says that as of the middle of this year, the number of people with HIV/AIDS in the regency has reached 3,900.

This means Mimika regency in Papua has one of the highest rates of HIV/AIDS cases, following Wamena (5,000) and Nabire (4,000).

"According to data we have received, housewives are now the biggest at-risk group concerning HIV/AIDS, compared to commercial sex workers. People from all professions, starting from farmers and fishermen to civil servants and police and military personnel, are vulnerable to the illness as well. HIV/AIDS do not differentiate between age and social group," said Reynold.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID