Viva News, 7 Desember 2014
Menggalang peran remaja terlibat aktif dalam kampanye HIV/AIDS.
VIVAlife - Dance4life hari ini memperingati hari HIV/AIDS sedunia di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu 7 Desember 2014.
Kegiatan Dance4life ini, bertujuan menggalang peran remaja untuk terlibat aktif dalam penanggulangan HIV/AIDS di kalangan remaja Indonesia.
"Sepanjang tahun 2014, Dance4life Indonesia menjangkau 20.000 remaja di seluruh Indonesia melalui sekolah dan komunitas. Kami juga menjangkau lebih dari 600.000 remaja untuk kampanye," tutur Monique Soesman, Direktur Rutgers WPF Indonesia.
Kemudian, sebagai bentuk kepedulian terhadap HIV/AIDS, Palang Merah Indonesia menggelar kegiatan donor darah kepada peserta dan pengunjung Dance4life.
Oleh: Hersumpana
Pada 2013, terpapar hampir 60 % dari semua infeksi baru diantara orang muda usia 15-24 tahun muncul diantara gadis remaja dan perempuan muda. Fakta yang diungkap UNAIDS ini merupakan suatu tantangan baru dan pola perubahan epidemi global selain penularan pada kelompok paling rentan yakni kelompok gay yang 19 kali kemungkinannya lebih besar tertular dibanding populasi umum dan kelompok transgender perempuan yang 49 kali lebih besar tertular HIV dari semua kelompok usia reproduktif[1]. Data status AIDS di Tingkat Asia Pasifik selama sepuluh tahun dari 1990 – 2011, orang yang hidup dengan HIV (OHIDHA) (15+) estimasinya 370.000, sementara perempuan dengan HIV (15 +) estimasinya 110.000[2]. Data laporan Triwulan II Kemenkes RI 2013, menunjukkan bahwa persentase AIDS tertinggi pada kelompok Usia 30 -39 tahun (33,8 %) kemudian diikuti oleh kelompok umur 20 -29 tahun (28,8 %), sementara data dari KPA Nasional hingga Juni 2013 menunjukkan ada 1.996 kasus infeksi HIV baru pada usia 15-24 tahun[3]. Meski data penularan terbesar masih terjadi pada kelompok populasi kunci terutama kelompok MSM dan PWID akan tetapi kecenderungan pergeseran penularan pada kelompok risti terutama pelanggan seks, ibu rumah tangga dan anak semakin mengkhawatirkan.
Oleh: Chrysant Lily
Dalam minggu pertama di bulan Desember, dunia memperingati dua hari internasional yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu Hari AIDS Sedunia pada tanggal 1 Desember dan Hari Relawan Internasional pada 5 Desember. Dua hari internasional ini mengingatkan kita bahwa peran relawan dalam isu-isu pembangunan termasuk dalam pencegahan, penanggulangan, dan mitigasi dampak HIV dan AIDS sebenarnya sangat potensial. Sayang pada kenyataannya, di banyak tempat termasuk di Indonesia hubungan antara isu kerelawanan dengan isu HIV dan AIDS belum terlalu eksplisit dibuat atau pun dimaksimalkan. Artikel ini hendak mengulas kemungkinan penjelasan mengapa hal itu terjadi, dengan mengambil perspektif kerelawanan serta perspektif respon HIV dan AIDS itu sendiri.
Situasi HIV/AIDS di Indonesia sejak pertama kali ditemukan pada 1987 hingga September 2014 semakin memprihatinkan. Hal itu terlihat dari penyebaran penyakitnya yang sudah merebak di 386 kabupaten/kota atau 78 persen dari 498 kabupaten/kota yang ada di seluruh Indonesia.
Demikian siaran pers yang dikirimkan Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa (2/1).
Saat ini Kementerian Kesehatan sedang berupaya untuk meningkatkan cakupan tes HIV, cakupan terapi ARV dan retensi ARV. Inisiatif ini sebagai tindak lanjut dari Kajian Cepat dan Konsultasi Nasional, yang diluncurkan Kementerian Kesehatan pada 2013 yang dikenal dengan sebutan Strategic Use of ARV (SUFA).
Oleh: Hersumpana
Data fakta dari UNAIDS 2014 tentang epidemi AIDS secara global memberikan harapan bahwa epidemi AIDS mengalami kecenderungan penurunan angka signifikan sejak AIDS ditemukan. Angka infeksi baru selama sejak sepuluh tahun terakhir menunjukkan penurunan drastis secara global di tahun 2013 tercatat 2,1 juta jumlah orang terinfeksi baru turun sekitar 1,2 juta dari tahun 2001 yang berjumlah 3,4 juta orang. Penurunan angka infeksi baru pada anak lebih dramatis lagi mencapai 58 % sejak 2001, jumlah anak terinfeksi baru pada 2013 ada 240.000 turun dari 580.000 pada 2001. Angka Kematian terkait AIDS juga mengalami penurunan 35 % dari puncak epidemi AIDS pada 2005. Angka kematian terkait AIDS pada 2013 secara global 1, 5 juta orang dibandingkan 2, 4 juta pada 2005. Akses ODHA yang mendapatkan terapi ARV sampai dengan Juni 2014 tercatat 13,6 juta orang, dibanding 12,9 juta pada 2013. Akses pengobatan ARV bagi ODHA dewasa mencapai 38 %, sementara untuk Anak dengan HIV (ADHA) baru mencapai 24 % yang mendapatkan pengobatan untuk menyelamatkan hidupnya[1]. Keberhasilan menurunkan angka epidemi AIDS secara global ini memberikan optimisme baru untuk mengakhiri AIDS pada 2030.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia