Oleh: Chrysant L. Kusumowardoyo

Ilustrasi | ThinkstockPusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Universitas Gadjah Mada dalam Policy Brief-nya yang berjudul “Peran Perguruan Tinggi dalam Menerjemahkan Hasil Penelitian HIV dan AIDS Menjadi Kebijakan” telah membahas tentang pentingnya membangun kebijakan berdasarkan hasil penelitian (evidence-based policy). Perguruan tinggi memiliki peranan penting dalam menghasilkan dan mendiseminasikan bukti-bukti dari hasil penelitian operasional, khususnya tentang upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Lewat kerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan lainnya, bukti-bukti tersebut kemudian bisa diadvokasikan untuk menjadi dasar dari pembuatan kebijakan.

Sitti Fatimah, Hilmiyah
Puskesmas Bulupoddo, Dinas Kesehatan Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan
Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Abstrak

Sitti Fatimah & HilmiyahLatar belakang :  Penanggulangan HIV/ AIDS dapat dilakukan dengan memperkuat promosi kesehatan (promkes) pencegahan, memperluas konseling dan tes HIV, perawatan, dukungan dan pengobatan. Penanggulangan melalui Serosurvey dilakukan untuk menjangkau kelompok risiko tinggi terkena penularan HIV/ AIDS dan IMS  dengan tujuan peningkatan pengetahuan komprehensif dan mengetahui prevalensi penderita HIV/ AIDS. Di Kabupaten Sinjai telah dilakukan Serosurvey dilakukan pada kelompok Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), Waria dan Nelayan. Prevalensi HIV/ AIDS di Kabupaten Sinjai  sampai Bulan Agustus Tahun 2014 3,43% kasus. Serosurvey  kembali akan dilakukan pada bulan September 2014 dengan sumber dana APBD Kabupaten Sinjai.

Yanuar Farida Wismayanti

Latar Belakang

Yanuar Farida WismayantiPerempuan muda, dengan tubuh ditutup selimut berwarna biru muda,  terbaring di salah satu ruang rawat inap khusus penderita penyakit Infeksi menular termasuk pasien HIV/AIDS di RS. Dr. Soetomo Surabaya,. Perempuan bernama Mia[1], berumur kurang lebih 38 tahun, dengan perawakan kurus, rambut dipotong pendek, dan kondisi kulit di tubuhnya yang kering, dengan bercak-bercak kehitam-hitaman, sebagian terlihat mengelupas. Hampir seminggu dia terbaring di ruang UPP (khusus pasien HIV/AIDS), akibat virus yang  HIV yang mematikan. Mia, sudah hampir 10 tahun bekerja sebagai pekerja seks, dan beberapa kali pindah lokalisasi di Kota Surabaya. Sebelumnya dia pernah menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki, kemudian bercerai. Selang 3 tahun kemudian, dia hamil dengan salah satu kiwirnya, namun anaknya meninggal dunia karena dirinya dinyatakan positif HIV sejak tahun 2008 yang lalu. Kini, tidak ada seorang keluargapun yang peduli lagi dengan dirinya. Hampir sepuluh hari di rawat di rumah sakit, Mia dipulangkan dari Rumah Sakit, dan tepat seminggu hidup di kontrakannya di daerah Tambakasri, Mia meninggal dunia pada tanggal 7 Mei 2010.[2]

Galery Berita, 07 November 2014

Kartu Indonesia Sehat | galeriberita.comJakarta-Galeriberita: Penderita AIDS (ODHA) berharap Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dikeluarkan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) bisa mengakomodasi kebutuhan obat ARV. Obat Antiretroviral (ARV) itu sangat dibutuhkan oleh penderita AIDS untuk memperlambat pertumbuhan virus HIV. 

Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana mengatakan, skema KIS ke depan diharapkan bisa mengakomodasi komponen obat ARV yang selama ini digunakan. 

Radar Jogja, 4 November 2014

JADI TONTONAN: Panitia penyelenggara kegiatan VCT juga menggelar hiburan organ tunggal di area bekas bangunan terminal, kemarin (4/11). Hal ini dilakukan agar sosialisasi bisa lebih mengena ke masyarakat. Dalam kesempatan ini, relawan juga membagikan brosur berisi tentang pencegahan dan penularan penyakit berbahaya tersebut. GUNAWAN/RADAR JOGJAAdakan VCT di Bekas Terminal untuk Warga Berisiko

WONOSARI – Pemkab dan pemerhati masalah sosial di Gunungkidul terus berusaha meminimalisasi penyebaran penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) – Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).

Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul kemarin (4/11) melakukan Voluntary Counseling Test (VCT) di area bekas bangunan terminal lama Baleharjo Wonosari.

Sekretaris KPAD Gunungkidul Iswandi mengatakan tes tersebut bertujuan untuk mempersempit penyebaran HIV/AIDS. Dalam kesempatan ini, bersama dengan relawan juga membagikan brosur berisi tentang pencegahan dan penularan penyakit berbahaya tersebut.

"Biar lebih santai dan tidak terkesan serius, juga digelar hiburan musik organ tunggal," kata Iswandi.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID