Kaltim Pos, 16 November 2014

BALIKPAPAN-Berkembangnya industri hiburan di Kota Minyak disebut juga memiliki dampak negatif. Salah satunya, adalah penularan penyakit HIV/AIDS. Hal ini diungkapkan, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antarlembaga, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Syamsul Lussa kepada Kaltim Post. Syamsul menyebut, berkembangnya sektor wisata ditengarai bisa meningkatkan penularan HIV/AIDS.

Merdeka.Com, 16 November 2014

@KapanLagi.com/Muhammad Akrom SukaryaMerdeka.com - Selama ini, kehidupan artis yang penuh dengan kesan glamor dan bebas selalu menjadi sorotan. Terutama bila dihubungkan dengan risiko terkena HIV/AIDS.

Banyak yang mengira, bebasnya pergaulan di kalangan artis membuat mereka lebih berisiko terkena virus mematikan ini daripada orang biasa. Padahal, menurut Vidi Aldiano, kehidupan artis tidaklah seperti yang dibayangkan orang awam.

Meski dari luar terlihat banyak yang melakukan seks bebas, memakai narkoba dan banyak hal lainnya. Namun tidak semua pelaku seni melakukan hal seperti itu.

"Menurut aku sih, banyak yang nggak suka kalau cuma artis saja yang disorot. Maksudnya, cuma gara-gara mereka artis kemudian mereka jadi disorot. Mereka juga manusia biasa," ujar Vidi kepada KapanLagi.com® belum lama ini.

Merdeka.Com, 16 November 2014

Ilustrasi Aids. Shutterstock/RoobcioMerdeka.com - Penyebaran virus HIV/AIDS di Kabupaten Jembrana, Bali makin mengkhawatirkan. Data hingga 31 Oktober 2014, kasus HIV tercatat 153 orang dan AIDS 392 orang. Penderita yang sudah meninggal 241 orang dengan total kasus 545 orang.

Kadis Kesehatan Kabupaten Jembrana Putu Suasta memaparkan, berdasarkan data di KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Jembrana, penyebaran HIV/AIDS semakin meningkat. "Ini sudah masuk dalam data zona merah," Tegas Putu Suasta, ketika dihubungi via telepon, Minggu (16/11).

Oleh: Hersumpana

Kali Code | kameradroid.comIklan layanan masyarakat yang mengatasnamakan masyarakat melarang orang untuk memberikan ‘uang receh’ kepada  pengemis, anak-anak jalanan, yang meminta-minta, di beberapa titik strategis di Kota Yogyakarta. Tidak hanya itu, jika melanggar orang bisa dikenakan sanksi hukuman ( Perda no. 6 tahun 2011 tentang perlindungan Anak di Jalanan).  Kebijakan ini berasumsi bahwa memberikan sedekah kepada pengemis atau anak jalanan itu dipandang membuat anak-anak jalanan ini menjadi manja dan tidak mau bekerja keras.  Logikanya, orang yang bersedekah di jalanan turut menciptakan kondisi anak untuk tetap mencari ‘uang dengan jalan mudah’.   Cara berpikir yang sama juga muncul dalam sarasehan dengan warga masyarakat Tukangan pada 31 Oktober 2014 yang berkomentar tentang kemiskinan, “Orang miskin itu sebenarnya karena tidak peduli dengan dirinya sendiri”.  Nalar ini perlu dilihat dalam konteks kebijakan pembangunan Indonesia dengan pertanyaan lanjut, kenapa ada orang yang masih orang miskin, apakah benar bahwa masyarakat menjadi miskin itu karena tidak mau bekerja keras? Atau sebaliknya orang menjadi miskin karena ketiadaan akses untuk mendapatkan pendidikan, ketrampilan, kesehatan, dan kesejahteraan?

Sondang Ratnauli Sianturi, MSN,  Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Saint Carolus Jakarta.

Sondang R SianturiIndonesia dan beberapa negara menyekapati kriteria keberhasilan pembangunan pada Goal 6, tentang HIV dan AIDS. Pencapaian sasaran MDGs menjadi salah satu prioritas utama bangsa Indonesia dan bukanlah semata-mata tugas pemerintah tetapi merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Dewasa ini, laju perkembangan epidemi HIV/AIDS di Indonesia merupakan yang tercepat di Asia Tenggara. Masalah HIV/AIDS ini menjadi fokus pada 8 sasaran pembangunan milenium dan masalah kesehatan HIV/AIDS dan Narkoba sampai saat ini masih menjangkau anak muda. Data kasus HIV/AIDS sampai Juli 2014 dari Departemen Kesehatan yaitu sebanyak 35341 penderita muda , dan rasio penderita terbanyak berada pada usia 20-29 tahun yaitu 17941 (Ditjen PPM PL DepKes RI, 2014) Data ini menunjukkan bahwa anak muda masih menjadi sasaran yang penting, karena dilihat dari sifat perkembangan dari remaja dan dewasa muda itu sendiri. Jumlah terbanyak yang dialami oleh anak muda ini disebabkan oleh adanya penggunaan melalui jarum suntik tidak steril, yang digunakan secara bersamaan oleh para pengguna narkoba kaum muda dan juga kasus  heteroseksual. Selain itu juga karena kurangnya informasi dan pemahaman kaum muda terhadap gender dan kesehatan reproduksi yang dapat menjadi pintu masuk utama dan memiliki resiko untuk terinfeksi HIV/AIDS.

Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID